Lima Negara Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026: Gol Perdana yang Tak Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Lima tim debutan atau pendatang lama berhasil mencetak gol pertama mereka di Piala Dunia 2026, menandai babak baru dalam sejarah sepak bola negara masing-masing.
- Curaçao, negara kepulauan dengan populasi terkecil yang pernah lolos, menjadi sorotan setelah menahan imbang Jerman dan mencetak gol bersejarah melalui Comenencia.
- Prestasi ini membuka peluang bagi negara-negara kecil dan non-unggulan untuk bermimpi lebih besar di panggung sepak bola global, termasuk menginspirasi Indonesia.

Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang pesta sepak bola terbesar, tetapi juga panggung sejarah bagi lima negara yang akhirnya mencatatkan gol perdana mereka di turnamen ini. Cabo Verde, Republik Demokratik Kongo, Curaçao, Yordania, dan Uzbekistan—masing-masing dengan cerita perjuangan yang unik—berhasil mengukir nama mereka dalam buku rekor FIFA. Momen-momen ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan simbol kebangkitan sepak bola di negara-negara yang sebelumnya terpinggirkan.
Dari total 48 peserta edisi kali ini, kelima tim tersebut memulai turnamen dengan status tanpa gol sepanjang partisipasi mereka. Empat di antaranya—Cabo Verde, Curaçao, Yordania, dan Uzbekistan—adalah pendatang baru, sementara Kongo DR kembali setelah 52 tahun absen dan masih mencari gol pertama sejak debut mereka pada 1974 (saat masih bernama Zaire). FIFA mencatat, penantian Kongo DR berlangsung selama 18.997 hari, sebuah rekor kesabaran yang akhirnya terbayar lunas.
Salah satu kisah paling menarik datang dari Curaçao, negara kepulauan di Karibia dengan jumlah penduduk hanya sekitar 155.000 jiwa—terkecil dalam sejarah Piala Dunia. Pada laga pembuka melawan Jerman, tim raksasa empat kali juara dunia, Curaçao sempat tertinggal lebih dulu. Namun, alih-alih gentar, mereka justru tampil menekan dan berhasil menyamakan kedudukan melalui gol Comenencia. Gol tersebut tidak hanya menyelamatkan muka, tetapi juga menjadikan Comenencia pahlawan nasional yang dikenang sepanjang masa.
Kongo DR, yang dijuluki "The Leopards", menulis ulang sejarah dengan cara dramatis. Pada menit akhir babak pertama pertandingan pertama mereka, Arthur Masuaku mengirimkan umpan silang yang disambut sundulan keras Wissa. Gol itu tidak hanya mengakhiri paceklik gol selama 52 tahun, tetapi juga memicu tarian khas 'Fimbu' yang ikonik di kalangan pemain dan suporter. Sementara itu, Yordania mengandalkan Ali Olwan, pencetak gol terbanyak mereka di babak kualifikasi, untuk membuka keran gol. Olwan dengan dingin melepaskan tembakan melengkung dari sisi kiri kotak penalti yang menghujam tiang jauh gawang Austria.
Uzbekistan, yang diasuh oleh Fabio Cannavaro—kapten timnas Italia juara 2006—menghadapi ujian berat melawan Kolombia. Tertinggal lebih dulu, tim "Serigala Putih" bangkit melalui sundulan Fayzullaev yang menyamakan kedudukan. Adapun Cabo Verde, satu-satunya tim yang belum mencetak gol di babak pertama, justru mencuri perhatian dengan hasil imbang heroik tanpa gol melawan Spanyol. Pada laga kedua melawan Uruguay, Pina mengeksekusi tendangan bebas jarak jauh yang menembus pagar betis tipis lawan, memicu euforia luar biasa di kubu Afrika tersebut.
Bagi Indonesia, pencapaian negara-negara ini memberikan pelajaran berharga. Dengan populasi lebih dari 270 juta, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengikuti jejak Curaçao atau Yordania yang mampu bersaing di level tertinggi meski dengan sumber daya terbatas. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa faktor sejarah, mentalitas, dan perencanaan jangka panjang lebih menentukan daripada sekadar jumlah penduduk atau infrastruktur mewah. Jika Indonesia serius mengembangkan sepak bola, bukan tidak mungkin dalam satu atau dua dekade ke depan kita bisa merasakan momen serupa: gol pertama di Piala Dunia yang akan dikenang sepanjang masa.
Pertanyaan selanjutnya adalah: mampukah federasi sepak bola Indonesia dan para pemangku kepentingan belajar dari kisah-kisah ini? Atau kita akan terus menjadi penonton setia, menyaksikan negara-negara kecil menorehkan sejarah sementara kita masih berkutat dengan masalah internal?



