Capello Dukung Conte Kembali ke Timnas Italia: Saatnya Terapi Kejut
Baca dalam 60 detik
- Fabio Capello menilai Antonio Conte adalah kandidat ideal untuk menukangi Italia, dengan alasan kemampuannya memberikan dampak instan dan 'terapi kejut' bagi skuad.
- Menurut Capello, peluang Roberto Mancini dinodai oleh keputusannya hengkang ke Arab Saudi pada 2023, sebuah langkah mendadak yang masih membekas di ingatan publik.
- Capello juga mengapresiasi kinerja Silvio Baldini bersama U-21 Italia, namun menegaskan Conte lebih siap memadukan pemain muda dan senior untuk hasil maksimal.

Fabio Capello, legenda pelatih Italia, secara terbuka mendukung kembalinya Antonio Conte ke kursi pelatih tim nasional Italia. Menurutnya, momen ini adalah waktu yang tepat bagi Conte untuk kembali membawa 'terapi kejut' bagi sepak bola Italia yang tengah mencari identitas baru.
Pernyataan Capello muncul setelah Giovanni Malago terpilih sebagai presiden baru FIGC (Federasi Sepak Bola Italia). Salah satu tugas pertamanya adalah menunjuk pelatih kepala untuk tim senior, posisi yang kini lowong. Dua nama utama yang beredar adalah Roberto Mancini dan Antonio Conte, meskipun ada juga suara yang mendukung promosi Silvio Baldini, pelatih U-21 yang sempat menjadi pelatih interim.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Capello tidak ragu memilih Conte. "Conte adalah pelatih yang memberikan dampak langsung, baik pada pemain maupun hasil. Ia jarang membuat kesalahan saat memulai petualangan baru," ujar Capello. Ia menambahkan bahwa sepak bola Italia membutuhkan kejutan, dan Conte adalah sosok yang tepat untuk memberikan 'terapi kejut' tersebut.
Capello juga menyoroti keputusan Mancini yang meninggalkan Italia pada 2023 untuk menangani timnas Arab Saudi. Menurutnya, langkah itu terjadi secara mendadak dan masih segar dalam ingatan. "Seminggu sebelum pertengahan Agustus, ia makan malam dengan Presiden FIGC Gravina. Seminggu kemudian, ia memberi tahu bahwa ia memilih opsi Arab Saudi. Itu terjadi tiga musim panas lalu. Fakta itu terlalu baru untuk dilupakan," tegas Capello. Meski demikian, Capello enggan menyebut keputusan Mancini sebagai pengkhianatan, melainkan pilihan yang mengejutkan.
Capello juga memuji potensi pemain muda Italia yang tampil dalam laga uji coba internasional di bawah Baldini. Namun, ia menekankan pentingnya menciptakan perpaduan yang baik antara pemain senior dan junior. "Pemain muda menjanjikan, tetapi mereka perlu ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Kehadiran pemain senior sangat fundamental," katanya.
Keunggulan Conte, menurut Capello, adalah pengalamannya menangani tim nasional. Conte pernah membawa Italia ke perempat final EURO 2016, bahkan hampir mengalahkan Jerman melalui adu penalti. Capello mengenang laga melawan Jerman dengan lini tengah darurat yang diisi Parolo, Sturaro, dan Giaccherini. "Saya mendukung Antonio karena ini waktunya. Anda bisa merasakan keinginannya untuk kembali ke tim nasional dan menyelesaikan pekerjaan yang ia mulai beberapa tahun lalu," ujar Capello.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perdebatan ini menarik karena menunjukkan bagaimana federasi sepak bola besar menghadapi transisi kepelatihan. PSSI sendiri kerap menghadapi situasi serupa dalam mencari pelatih timnas yang tepat. Pelajaran dari Italia adalah pentingnya kontinuitas dan dampak instan, dua hal yang sering menjadi pertimbangan di Indonesia.
Capello juga memberikan pujian kepada Baldini, yang dinilainya melakukan pekerjaan hebat bersama U-21. "Pesan yang ia sampaikan selama 10 hari memimpin tim senior juga berdampak," kata Capello. Namun, ia tetap pada pendirian bahwa Conte adalah pilihan terbaik untuk jangka panjang.
Dengan Malago yang baru menjabat, keputusan soal pelatih akan menjadi ujian awal. Apakah FIGC akan memilih Conte yang dianggap mampu memberikan kejutan, atau Mancini yang pernah membawa kejayaan? Atau justru memberikan kesempatan kepada Baldini? Satu hal pasti, sepak bola Italia sedang menanti langkah berani.



