Peringatan Keras Hossam Hassan di Babak Pertama: Kunci Kemenangan Perdana Mesir di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Mesir meraih kemenangan pertama dalam sejarah partisipasi Piala Dunia setelah menundukkan Selandia Baru 3-1, berkat instruksi tegas pelatih Hossam Hassan saat jeda.
- Mohamed Salah menjadi motor kebangkitan dengan satu gol dan satu assist, membuktikan peran vitalnya dalam skema baru yang diterapkan Hassan.
- Kemenangan ini membawa Mesir memuncaki Grup G dengan empat poin, sekaligus mengakhiri rekor buruk tanpa kemenangan dalam tiga edisi Piala Dunia sebelumnya.

Pelatih tim nasional Mesir, Hossam Hassan, mengeluarkan ultimatum keras kepada anak asuhnya saat jeda babak pertama laga melawan Selandia Baru: tidak akan kembali ke lapangan jika tidak ada tekad bulat untuk meraih kemenangan yang layak bagi para pendukung setia. Ancaman itu terbukti menjadi titik balik. Tertinggal satu gol lebih dulu, Mesir bangkit dan menang 3-1 di BC Place, Vancouver, Jumat (21/6) โ sekaligus mencatatkan kemenangan perdana mereka dalam sejarah keikutsertaan di Piala Dunia.
Kemenangan ini terasa istimewa karena Mesir sebelumnya belum pernah merasakan manisnya tiga poin di turnamen paling bergengsi sepak bola dunia. Dalam tiga partisipasi sebelumnya โ 1934, 1990, dan 2018 โ mereka hanya mencatat lima kekalahan dan dua hasil imbang. Capaian itu kontras dengan status mereka sebagai pengoleksi tujuh gelar Piala Afrika, rekor terbanyak di benua hitam. Tekanan untuk memutus rantai kegagalan itu pun menjadi beban berat bagi Hassan, yang baru menukangi tim sejak awal tahun.
"Saat jeda, saya katakan kepada para pemain bahwa kami tidak akan kembali ke lapangan kecuali kami bertekad menang dan memetik kepercayaan diri dari kebanggaan yang kami rasakan dari dukungan suporter," ujar Hassan dalam konferensi pers usai pertandingan. Ia menambahkan bahwa tim membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan diri, memanfaatkan kekuatan, dan merenungkan perjalanan panjang menuju Piala Dunia. "Saya ingin generasi ini membentuk masa depannya sendiri, menentukan jalannya sendiri. Kami juga ingin terus mengembangkan level liga nasional dan sepak bola Afrika secara keseluruhan."
Kebangkitan Mesir tidak lepas dari peran bintang Liverpool, Mohamed Salah. Pemain berusia 32 tahun itu mencetak satu gol dan memberikan satu assist, menunjukkan urgensi dan ketajaman serangan yang jauh lebih baik di babak kedua. Hassan memuji kerja keras Salah dan mengklaim dirinya mungkin pelatih pertama yang memainkan Salah di posisi yang sesuai dengan potensi bahayanya. "Kami bekerja pada banyak hal dan saya yakin kami akan melihat lebih banyak lagi darinya," tambah Hassan.
Bagi publik sepak bola Indonesia, kisah kebangkitan Mesir menyimpan pelajaran berharga. Timnas Indonesia yang tengah berjuang meningkatkan performa di level Asia bisa mencontoh bagaimana tekanan sejarah justru dijadikan motivasi. Keberanian pelatih mengambil keputusan tegas di momen kritis, serta kepercayaan kepada pemain bintang untuk tampil optimal, menjadi resep yang bisa direplikasi. Apalagi, Indonesia juga memiliki pemain diaspora yang potensial seperti halnya Salah yang bermain di Eropa.
Laga berikutnya, Mesir akan menghadapi Iran di Seattle pada laga pamungkas grup. Hasil imbang sudah cukup untuk memastikan langkah mereka ke babak gugur. Namun, dengan modal kemenangan perdana ini, semangat skuad The Pharaohs dipastikan melesat. Pertanyaan besarnya: akankah Mohamed Salah dan kawan-kawan mampu melanjutkan tren positif dan menembus fase knockout untuk pertama kalinya dalam sejarah?



