Haiti Pulang dengan Kepala Tegak: Kekalahan Dramatis yang Membuktikan Mereka Pantas di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Haiti menutup perjalanan Piala Dunia 2026 dengan kekalahan 4-2 dari Maroko, namun penampilan heroik mereka di babak pertama mendapat pujian sebagai tontonan paling menghibur di turnamen sejauh ini.
- Kembali setelah 52 tahun absen, Haiti gagal meraih poin tetapi menunjukkan kualitas yang layak, dengan dua gol yang dicetak menjadi rekor baru bagi mereka dalam satu pertandingan Piala Dunia.
- Krisis keamanan di Haiti memaksa tim bermain di luar negeri, namun dukungan diaspora di Amerika Serikat dan tekad pelatih Sebastien Migne menjadi modal untuk kembali ke panggung dunia dalam empat tahun.

Haiti menjadi tim pertama yang tersingkir dari Piala Dunia 2026, tetapi penampilan mereka di laga pamungkas melawan Maroko pada Rabu (24/6) di Atlanta Stadium layak dikenang sebagai salah satu pertandingan paling seru di turnamen ini. Meski kalah 4-2, Haiti dua kali memimpin dan nyaris mempermalukan semifinalis 2022 tersebut, membungkam keraguan bahwa kehadiran mereka di Amerika Serikat hanyalah karena perluasan format Piala Dunia.
Kembali setelah 52 tahun, Haiti memang menelan tiga kekalahan beruntun. Namun, cara mereka bertarung melawan Maroko—yang membutuhkan gol untuk memuncaki Grup C—menunjukkan bahwa tim asuhan Sebastien Migne tidak sekadar menjadi pelengkap. Babak pertama laga itu disebut-sebut sebagai 45 menit paling menghibur di Piala Dunia sejauh ini, dengan Haiti bermain berani dan tanpa rasa inferior.
"Kami menunjukkan bahwa kami tidak mencuri tempat di sini. Kami pantas berada di sini," ujar Migne usai pertandingan. Pelatih asal Prancis yang belum pernah menginjakkan kaki di Haiti itu menyesalkan timnya gagal membawa pulang setidaknya satu poin untuk para pendukung setia yang memadati stadion.
Kapten Haiti, kiper Johny Placide, mengumumkan bahwa laga melawan Maroko adalah pertandingan internasional terakhirnya. Kiper berusia 38 tahun itu tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan krusial, termasuk penyelamatan ganda yang mengundang decak kagum penonton. Sementara itu, spanduk bertuliskan "We Will Be Back" yang diangkat seorang suporter Haiti di tribun menjadi simbol optimisme bahwa tim ini tidak akan menunggu setengah abad lagi untuk tampil di panggung dunia.
Perjalanan Haiti ke Piala Dunia 2026 penuh dengan rintangan. Krisis keamanan akibat kekerasan geng sejak 2021 membuat mereka tidak bisa menjalani laga kualifikasi di kandang sendiri. Sebagian besar pemain berasal dari diaspora, dan dukungan suporter datang dari komunitas Haiti yang sudah menetap di Amerika Serikat. Migne, yang belum pernah mengunjungi Haiti, bertekad untuk membangun tim yang lebih kuat agar bisa kembali dalam empat tahun mendatang.
Bagi Indonesia, kisah Haiti menjadi cermin tentang bagaimana keterbatasan infrastruktur dan keamanan tidak menghalangi semangat sepak bola. Timnas Indonesia yang juga berjuang untuk tampil di Piala Dunia dapat belajar dari kegigihan Haiti dalam mengelola pemain diaspora dan memaksimalkan dukungan komunitas di luar negeri. Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia mengikuti jejak Haiti—atau bahkan melampauinya—dengan kualitas permainan yang tak kalah heroik?



