Alex Freeman, Putra Legenda NFL, Bersinar di Piala Dunia Bersama AS
Baca dalam 60 detik
- Bek AS Alex Freeman mencetak gol perdananya di Piala Dunia, membawa timnya lolos ke 32 besar setelah menekuk Australia 2-0.
- Putra mantan bintang NFL Antonio Freeman ini sempat merahasiakan kecintaannya pada sepak bola karena khawatir reaksi sang ayah.
- Di balik kesuksesannya, ada peran ibu, ayah tiri, dan pelatih Mauricio Pochettino yang memberinya kepercayaan diri.

Nama Freeman kembali bergema di Seattle, hampir tiga dekade setelah Antonio Freeman mengguncang lapangan NFL dengan dua touchdown-nya. Kini, putranya, Alex Freeman, menorehkan sejarah di ajang yang berbeda: Piala Dunia. Gol perdana pemain berusia 21 tahun itu pada Jumat lalu memastikan kemenangan 2-0 Amerika Serikat atas Australia sekaligus tiket ke babak gugur.
Bagi Alex, momen itu adalah lingkaran penuh keluarga. "Ini menunjukkan betapa hebatnya pohon keluarga kami. Ayah bisa hebat, dan saya bisa hebat dengan cara saya sendiri," ujarnya usai pertandingan. Sang ayah, yang kini menjadi penonton setia di tribun, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
Perjalanan Alex menuju panggung dunia tidaklah mulus. Di negeri yang mengidolakan American football, memilih sepak bolaโatau soccerโadalah keputusan berani. Alex mengaku sempat merahasiakan kecintaannya pada olahraga ini karena khawatir reaksi ayahnya. Namun, ibunda dan ayah tirinyalah yang pertama mendorongnya, bahkan menjadi pelatih pertamanya.
Keputusan Mauricio Pochettino menangani AS pada 2024 menjadi titik balik. Pelatih asal Argentina itu membangun tim berbasis pemain muda, dan Freeman menjadi salah satu pilar. "Dia punya profil luar biasa, mau belajar, dan selalu mendengarkan. Potensinya bisa menjadi yang terbaik di posisinya," puji Pochettino. Padahal, baru 18 bulan lalu nama Freeman nyaris tak terdengar dalam diskusi tim nasional.
Fenomena Freeman tak hanya di lapangan. Sebuah unggahan TikTok oleh saudara tirinya, Diamond Spaulding, yang menulis "Adikku main buat AS, dukung #16", menjadi viral. Setelah Freeman memberi assist dan gol, julukan "Adik Kecil Diamond" pun mewabah di media sosial. Ini menunjukkan bagaimana sepak bola mulai merambah generasi baru di Amerika.
Bagi Indonesia, kisah Freeman menjadi pengingat bahwa sepak bola bisa tumbuh di bawah bayang-bayang olahraga dominan. Di tanah air, sepak bola sudah menjadi raja, tetapi tantangan serupa muncul dari basket atau bulu tangkis. Perjuangan Freeman melawan stereotip dan dukungan keluarga bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Indonesia yang ingin menekuni cabang olahraga yang kurang populer.
"Saya bekerja seumur hidup untuk momen ini, menyanyikan lagu kebangsaan di depan pendukung sendiri. Saya sangat bahagia," kata Freeman. Dengan lolosnya AS ke 32 besar, pertanyaan besarnya: mampukah Freeman dan timnya melangkah lebih jauh di Piala Dunia yang digelar di kandang sendiri?



