Benteng Ghana Bikin Inggris Gigit Jari: Tuchel Diuji Kreativitas
Baca dalam 60 detik
- Timnas Inggris gagal mencetak gol saat ditahan imbang 0-0 oleh Ghana di laga kedua Grup L Piala Dunia.
- Ghana sukses meredam permainan Inggris dengan formasi bertahan rapat, membuat Three Lions hanya menguasai bola tanpa mampu menembus pertahanan.
- Hasil imbang ini memicu pertanyaan tentang daya gedor Inggris jelang laga penentu melawan Panama, sekaligus menjadi alarm bagi skema serangan Thomas Tuchel.

Euforia kemenangan telak atas Croatia seketika sirna. Inggris harus puas bermain imbang tanpa gol melawan Ghana dalam laga kedua Grup L Piala Dunia, sebuah hasil yang langsung mengembalikan tim asuhan Thomas Tuchel ke bumi.
Jika melawan Croatia Inggris tampil trengginas dengan permainan menekan, Ghana justru menyajikan tantangan berbeda. Pasukan Carlos Queiroz memilih bertahan dalam dengan formasi 5-4-1 yang rapat, menutup semua ruang dan memaksa Inggris memegang bola hingga 78,2 persen tanpa mampu menciptakan peluang berarti. Tuchel mengakui kesulitan menembus "tembok" Ghana. "Sulit mencari celah saat lawan bermain 4-5-1 dan total bertahan. Mereka bahkan merayakan hasil imbang seperti kemenangan," ujarnya.
Pertandingan ini menjadi ujian nyata bagi skema ofensif Tuchel. Lini depan Inggris yang diandalkan saat melawan Croatia, seperti Anthony Gordon, tampil tumpul. Harry Kane hanya dua kali menyentuh bola di kotak penalti Ghana pada babak pertama. Wayne Rooney, legenda Inggris, menilai timnya kurang memanfaatkan umpan silang. "Saat menghadapi pertahanan rapat, umpan silang adalah senjata. Saya rasa kami tidak cukup sering melakukannya," kata Rooney kepada BBC Sport.
Kebuntuan kreativitas di lini tengah juga menjadi sorotan. Duet Declan Rice dan Elliot Anderson dinilai terlalu satu dimensi. Nama-nama seperti Morgan Gibbs-White atau Adam Wharton disebut-sebut bisa menjadi alternatif. Dua gelandang serang yang absen, Cole Palmer dan Phil Foden, juga dirindukan perannya. Namun, Tuchel tetap percaya pada Rice dan Anderson sebagai fondasi.
Di sisi lain, Ghana hampir mencuri kemenangan. Pelatih Queiroz dengan sinis menyebut "VAR pergi minum kopi" setelah wasit menolak penalti untuk Ghana saat Ezri Konsa dianggap melanggar Prince Kwabena Adu. Tontonan ulang menunjukkan Konsa menyentuh pemain, bukan bola. Jika penalti diberikan, hasil bisa lebih buruk bagi Inggris.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar penguasaan bola. Tim-tim Asia Tenggara yang kerap menghadapi lawan superior bisa belajar dari Ghana: disiplin bertahan, organisasi rapi, dan serangan balik cepat adalah kunci meredam tim besar. Pelatih Shin Tae-yong pun kerap menerapkan strategi serupa saat Timnas Indonesia berhadapan dengan lawan-lawan kuat di level Asia.
Inggris masih memuncaki Grup L dan lolos ke babak 32 besar sangat mungkin diraih. Namun, performa kontra Ghana menimbulkan keraguan: apakah skuad ini cukup kreatif untuk menghadapi tim-tim seperti Prancis, Spanyol, atau Brasil di fase gugur? Joe Hart, mantan kiper Inggris, menilai hasil ini tidak akan membuat lawan potensial gentar. "Mereka akan melihat pertandingan melawan Ghana, bukan hanya saat melawan Croatia," ujarnya.
Tuchel punya waktu hingga laga melawan Panama untuk membenahi lini serang. Pertanyaannya, akankah ia berani melakukan perubahan besar, atau tetap bertahan dengan formula yang sudah ada? Satu hal pasti: jalan Inggris menuju trofi masih panjang dan penuh onak.



