Kisah Unik Kiper Cabo Verde: Nama Terinspirasi Legenda Argentina dan Brasil
Baca dalam 60 detik
- Kiper Cabo Verde, Josimar Dias alias Vozinha, memiliki nama yang terinspirasi dari Jorge Valdano (Argentina) dan Josimar (Brasil) setelah ayahnya gagal mendaftarkan nama Valdano karena larangan nama asing.
- Vozinha menjadi pahlawan setelah menahan imbang Spanyol di debut Piala Dunia 2026, menarik perhatian global dan meningkatkan jumlah pengikutnya dari 50 ribu menjadi jutaan.
- Kisah ini menunjukkan hubungan erat antara Afrika dan Amerika Latin melalui sepak bola, serta relevansi bagi Indonesia yang juga memiliki ikatan budaya dengan negara-negara sepak bola besar.
Seorang kiper asal Cabo Verde, Josimar Dias yang akrab disapa Vozinha, memiliki kisah unik di balik namanya yang ternyata terinspirasi dari dua legenda sepak bola Amerika Latin: Jorge Valdano dari Argentina dan Josimar dari Brasil. Cerita ini terungkap setelah Vozinha tampil gemilang menahan imbang Spanyol pada debut negaranya di Piala Dunia 2026, Senin lalu.
Ayah Vozinha, Ze Pedro, awalnya ingin menamai putranya Jorge Valdano, terinspirasi oleh penampilan impresif Valdano di Piala Dunia 1986 yang membawa Argentina juara. Namun, petugas catatan sipil di Cabo Verde menolak nama tersebut karena peraturan yang melarang penggunaan nama asing. Sebagai gantinya, Ze Pedro memilih nama Josimar, merujuk pada pemain Brasil yang bersinar di turnamen yang sama dengan mencetak gol spektakuler melawan Irlandia Utara dan Polandia.
"Di dunia sepak bola, saya dikenal sebagai Vozinha. Tapi saya ingin memberi penghormatan kepada Jorge Valdano dan Josimar, inspirasi di balik nama saya," ujar Vozinha setelah pertandingan melawan Spanyol. Valdano sendiri baru mengetahui kisah ini beberapa hari sebelum Piala Dunia dimulai melalui FIFA. "Empat puluh tahun setelah bermain di Piala Dunia 1986, saya seolah bermain lagi di Piala Dunia 2026 melalui Vozinha. Ini kejutan besar bagi saya," kata Valdano.
Kisah Vozinha tidak hanya unik dari segi nama, tetapi juga perjalanan hidupnya. Ia dibesarkan oleh kakek-neneknya saat orang tuanya sibuk bekerja. Julukan "Vozinha" sendiri berasal dari masa kecilnya, ketika ia sering berlari pulang ke neneknya ("vozinha" dalam bahasa Portugis) setelah kalah bermain sepak bola di jalanan. "Saya sering mendapat pukulan, dan kalau tidak bisa membalas, saya pulang dengan marah. Mereka mengejek saya, bilang saya akan mengadu ke kakek-nenek," kenangnya.
Setelah pertandingan bersejarah melawan Spanyol, Vozinha mendedikasikan hasil imbang tersebut untuk kedua kakek-neneknya yang telah meninggal. "Saya sangat berterima kasih kepada orang tua dan kakek-nenek saya, yang kini bersinar dari atas. Mereka membesarkan saya. Jika mereka masih hidup, mereka pasti bangga," ucapnya dengan haru.
Bagi Indonesia, kisah Vozinha menjadi pengingat betapa sepak bola mampu menghubungkan budaya dan benua. Cabo Verde, negara kecil di Afrika, berhasil menarik perhatian dunia melalui cerita personal yang menyentuh. Di Indonesia, di mana sepak bola juga menjadi gairah besar, kisah seperti ini bisa menjadi inspirasi bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, tetapi juga jembatan antarbangsa.
Ke depan, Vozinha dan Cabo Verde masih memiliki peluang untuk melaju lebih jauh di Piala Dunia 2026. Pertanyaan yang muncul: mampukah mereka mengulang kejutan seperti saat menahan Spanyol? Atau akankah kisah Vozinha menjadi legenda yang dikenang sepanjang masa?



