Piala Dunia 2026: Suporter Asing Terpukau oleh Kultur Amerika yang Serba Besar
Baca dalam 60 detik
- Penggemar sepak bola dari berbagai negara mengaku kagum dengan ukuran porsi makanan, kemasan minuman, dan fasilitas umum di Amerika Serikat yang jauh lebih besar dari negara asal.
- Fenomena ini viral di media sosial, dengan para suporter asing membagikan pengalaman mencoba restoran cepat saji khas AS seperti Waffle House dan Chipotle.
- Meski biaya perjalanan lebih tinggi dibanding Piala Dunia sebelumnya, banyak suporter menilai pengalaman budaya Amerika menjadi daya tarik utama yang tak terlupakan.

Suporter Maroko, Ayoub Baghdad, baru saja menginjakkan kaki di Amerika Serikat untuk mendukung timnasnya di Piala Dunia 2026, namun ia sudah dibuat terpana oleh satu hal yang sama sekali tidak terkait sepak bola: ukuran segala sesuatu di Negeri Paman Sam. "Semuanya besar, bahkan Coca-Cola-nya besar," ujarnya, merujuk pada minuman bersoda yang dijual dalam kemasan raksasa. Baghdad mengaku jalan raya, truk, dan gedung-gedung di AS jauh lebih besar dari apa pun yang biasa ia lihat di Maroko.
Sekitar 75 persen pertandingan Piala Dunia 2026 akan digelar di AS, sementara Meksiko dan Kanada menjadi tuan rumah sisanya. Arus besar suporter asing yang datang pun tak hanya menikmati pertandingan, tetapi juga menjelajahi budaya, lanskap, dan keunikan Amerika. Fenomena ini melahirkan video viral di media sosial, mulai dari suporter yang mencoba Waffle House, terobsesi dengan saus ranch, hingga takjub melihat supermarket raksasa dan porsi makanan yang jumbo.
Ketertarikan pada ukuran yang serba besar menjadi topik yang paling sering disebut oleh para penggemar internasional saat diwawancarai BBC. "Tempat seperti ini HANYA bisa ada di Amerika dan saya SUKA," kata Shaun, seorang vlogger asal Skotlandia, setelah mengunjungi Buc-ee's—gabungan toko serba ada, restoran, pom bensin, dan supermarket yang populer di wilayah selatan AS. Rantai toko ini memiliki penggemar fanatik yang kerap berfoto dengan maskot berang-berang di depan gerainya.
Bagi sebagian suporter, makanan menjadi jendela untuk mengenal Amerika. Ire Balogun, penggemar asal Oxford, Inggris, mengaku terkejut dengan cita rasa makanan di AS. "Makanan di sini jauh lebih enak daripada di Inggris. Bahkan fast food-nya pun punya rasa yang kuat. Saya yakin tidak sehat, tapi rasanya luar biasa, baik makanan China maupun Hispanik," katanya. Sementara itu, João Valentim dan teman-temannya, mahasiswa pascasarjana asal Portugal yang tinggal di Madrid, sengaja mencoba restoran cepat saji yang tidak ada di negara asal, seperti Chipotle dan Shake Shack. "Ini seperti yang biasa kami lihat di film atau acara TV. Ini bagian dari pengalaman datang ke AS," ujar Lourenço Silva.
Fitur unik restoran Amerika juga mengejutkan para pelancong. Beberapa mengunggah video tentang keripik dan salsa gratis yang disajikan di restoran Hispanik, atau isi ulang minuman gratis di hampir semua tempat makan. Christian Boateng, penggemar asal Ghana yang tinggal di Inggris, takjub dengan porsi makanan. "Porsi yang kami beli tidak habis. Tidak seperti di Inggris," katanya. Ia juga heran dengan kebiasaan Amerika yang tidak mencantumkan pajak penjualan pada harga barang, berbeda dengan Inggris yang sudah termasuk pajak.
Balogun juga mencatat bahwa suasana di AS terasa lebih tenang dibanding Piala Dunia sebelumnya yang ia hadiri di Rusia 2018 dan Qatar 2022. Hal ini wajar mengingat sepak bola bukan olahraga utama di Amerika, yang harus bersaing dengan bisbol (sedang musim) dan sepak bola Amerika. Namun, justru ini menjadi keunikan tersendiri. Dua suporter Inggris, Jason Barnes dan Harry Beckley, tanpa sengaja terseret dalam kerumunan penggemar basket di Times Square saat New York Knicks memenangkan gelar NBA pertama dalam 53 tahun. "Itu perayaan tergila yang pernah saya lihat. Saya mungkin akan mulai mengikuti basket sekarang," kata Barnes.
Para suporter tidak hanya berkeliaran di kota-kota besar. Mereka juga penasaran dengan jantung Amerika. Tomás Soares dan rombongannya dari Portugal berencana menjelajahi Georgia, Florida, dan Carolina untuk mencicipi barbekyu dan seafood boil. "Itu yang paling kami nantikan," ujar Soares. Meskipun harga di AS lebih mahal dibanding Qatar, Baghdad dari Marocco tetap merasa perjalanan ini sepadan. "Anda bisa membuat anggaran sendiri untuk menonton satu atau dua pertandingan, dan pengalaman itu akan bertahan seumur hidup. Ini tidak akan terulang lagi," pungkasnya.
Piala Dunia 2026 di Amerika Utara diprediksi tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga laboratorium budaya global. Pertanyaannya, apakah pengalaman serba besar ini akan mengubah cara pandang suporter dunia terhadap Amerika, atau justru memperkuat stereotip yang sudah ada?



