Shunsuke Nakamura: Dari Legenda Lapangan ke Taktikus di Panggung Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Shunsuke Nakamura, mantan gelandang ikonik Jepang, bergabung sebagai asisten pelatih timnas hanya dua bulan sebelum Piala Dunia 2026.
- Nakamura fokus meningkatkan strategi tendangan bebas dan adu penalti, dua kelemahan historis Jepang di turnamen besar.
- Kehadirannya diharapkan meredakan tekanan mental pemain muda berkat pengalaman bermain di dua Piala Dunia sebelumnya.

Shunsuke Nakamura, maestro sepak bola Jepang yang namanya identik dengan tendangan bebas mematikan, kini kembali ke panggung Piala Dunia—bukan sebagai pemain, melainkan sebagai asisten pelatih yang membawa misi memperbaiki kelemahan klasik tim Samurai Biru: adu penalti. Di usianya yang ke-47, Nakamura dipercaya pelatih Hajime Moriyasu untuk mendampingi 26 pemain Jepang yang berlaga di Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Penunjukan Nakamura pada 16 April lalu, kurang dari dua bulan sebelum turnamen dimulai, sempat mengejutkan banyak pihak. Namun, langkah ini bukan tanpa alasan. Moriyasu, yang sejak debutnya sebagai pelatih kepala di Piala Dunia 2022 menyaksikan Jepang tersingkir lagi-lagi melalui adu penalti, menilai pengalaman Nakamura sebagai algojo tendangan bebas dan pemain yang pernah merasakan pahitnya fase gugur sangat dibutuhkan. Jepang tercatat dua kali kandas di babak 16 besar melalui adu penalti: pada 2010 (saat Nakamura masih bermain) dan 2022.
Dalam sesi latihan di kamp pra-turnamen di Monterrey, Meksiko, Nakamura terlihat intensif melatih para eksekutor tendangan bebas seperti Junya Ito. Pemain sayap Genk itu mengaku sangat antusias. “Dia adalah pemain Jepang yang paling saya kagumi. Belajar dari eksekutor tendangan bebas terbaik adalah sesuatu yang istimewa,” ujar Ito. Nakamura sendiri dikenal memiliki kaki kiri presisi tinggi, mencetak 24 gol dalam 98 penampilan untuk Jepang, serta pernah bermain di Yokohama Marinos, Italia, dan Skotlandia sebelum pensiun pada 2022.
Proses rekruitmen Nakamura cukup unik. Awalnya ia hadir sebagai komentator dalam tur Jepang ke Inggris pada Maret. Saat muncul di pinggir lapangan latihan menjelang laga uji coba melawan Skotlandia, ia disambut hangat oleh asisten pelatih Makoto Hasebe dan staf lainnya. Moriyasu, yang melihat sambutan itu, membuka tangannya dan berkata, “Lihat, semua orang menyambutmu!” Setelah pertandingan kedua melawan Inggris, tawaran resmi pun datang. Nakamura mengaku sempat ragu karena waktu yang mepet, namun akhirnya menerima setelah mendengar permintaan langsung Moriyasu. “Saya berpikir, meskipun kontribusi saya kecil, itu bisa bermanfaat bagi tim,” katanya.
Bagi Indonesia, kehadiran Nakamura di kursi pelatih Jepang bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia, yang tengah berbenah menuju Piala Dunia 2026, memiliki masalah serupa dalam hal penyelesaian akhir dan mentalitas di momen krusial. Pengalaman Jepang merekrut legenda hidup untuk memperbaiki kelemahan teknis dan psikologis bisa menjadi model yang patut ditiru. Apalagi, Indonesia juga memiliki beberapa mantan pemain bintang yang kini berkarier di luar negeri dan berpotensi memberikan kontribusi serupa.
Nakamura sendiri tidak hanya fokus pada tendangan bebas. Ia juga merancang metode latihan khusus untuk adu penalti, termasuk simulasi tekanan tinggi. “Saya tidak ingin pemain terlalu terobsesi dengan adu penalti,” ujarnya. “Saya punya beberapa ide tentang apa yang mungkin berhasil, termasuk metode latihan. Saya sudah menyampaikannya ke Moriyasu dan berdiskusi dengan analis kami.” Dengan pengalaman bermain di hadapan puluhan ribu penonton, Nakamura paham betul beban mental yang dirasakan pemain. Sepatah kata darinya bisa menjadi penenang.
Pertanyaannya, akankah sentuhan Nakamura mampu mengubah nasib Jepang di Piala Dunia kali ini? Atau justru tekanan sebagai legenda yang harus segera memberi hasil akan menjadi bumerang? Hanya lapangan hijau yang bisa menjawab.



