Piala Dunia 2026: Jepang Siap Buktikan Evolusi Taktik Lawan Belanda
Baca dalam 60 detik
- Jepang akan menghadapi Belanda di laga perdana Grup F Piala Dunia 2026, Minggu (14/6), dengan misi membuktikan perkembangan taktik sejak Piala Dunia 2022.
- Pelatih Hajime Moriyasu menegaskan timnya kini lebih proaktif dan tidak lagi bisa dianggap remeh oleh lawan-lawan besar, setelah mengalahkan Brasil dan Inggris di laga uji coba.
- Kepergian kapten Wataru Endo karena cedera menjadi sorotan, namun Moriyasu memastikan keputusan itu demi kepentingan tim dan rasa hormat terhadap pemain.

Pelatih tim nasional Jepang, Hajime Moriyasu, menantang anak asuhnya untuk menunjukkan hasil kerja keras selama tiga setengah tahun terakhir saat mereka bersua Belanda pada laga perdana Gruf F Piala Dunia 2026, Minggu (14/6) waktu setempat. Pertandingan yang akan digelar di Dallas Stadium, Texas, Amerika Serikat, ini menjadi ujian awal bagi Samurai Biru untuk membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim yang mudah ditekan seperti di edisi sebelumnya.
Bercermin dari pengalaman di Qatar 2022, Jepang sempat tampil inferior di babak pertama saat melawan Jerman dan Spanyol, namun bangkit dengan kemenangan dramatis di babak kedua. Moriyasu menilai pendekatan timnya kini jauh lebih matang. "Kami memiliki taktik dasar, tetapi juga bisa bermain dengan banyak opsi yang diberikan pelatih kepada pemain. Ini bukan hanya tentang mengekspresikan gaya bermain yang kami suka, tetapi juga melakukan sesuatu yang tidak disukai lawan," ujarnya dalam konferensi pers, Sabtu (13/6).
Sejak Oktober lalu, Jepang sukses mengalahkan Brasil di kandang sendiri dan Inggris di laga tandang. Hasil ini membuat Moriyasu sadar bahwa lawan-lawan besar tidak akan lagi memberikan celah seperti di Piala Dunia sebelumnya. "Mereka meninggalkan sedikit ruang yang bisa kami manfaatkan di turnamen lalu, tapi sekarang mereka pasti sudah menganalisis kami dan akan lebih waspada. Saat Jepang bersaing di level dunia, tidak ada lagi kemungkinan diremehkan," tegasnya.
Di sisi lain, kepergian kapten Wataru Endo menjadi topik hangat jelang laga. Moriyasu mengaku berat hati mengeluarkan pemain Liverpool itu dari skuad berdasarkan laporan tim medis. "Saya tahu saya menyampaikan hal yang sangat buruk kepada pemain. Saat berbicara dengan Wataru, dia mendengarkan dengan sangat tenang, dan kami berbicara dengan tenang. Saya minta maaf telah melakukan sesuatu yang juga menyakiti keluarga dan orang-orang yang mendukungnya. Keputusan ini diambil demi tim, untuk Jepang, tanpa melupakan rasa hormat kepada pemain," ungkap Moriyasu dengan nada menyesal.
Pelatih Belanda, Ronald Koeman, yang pernah menjadi kapten tim Oranye di Piala Dunia 1994, mengakui kekuatan Jepang. "Gaya bermain Jepang menyerang. Saya tidak ingin bicara soal pemain individu. Kami tahu Jepang punya substansi, stamina fisik untuk bermain penuh selama 90 menit, tapi kami juga tahu di mana peluang kami. Ada momen di mana ada ruang yang bisa kami manfaatkan, dan itu juga berlaku untuk Jepang. Kami menghormati mereka karena mereka juga meraih hasil bagus dalam beberapa tahun terakhir, jadi kami tahu siapa yang kami hadapi dan kami siap untuk itu," ujar Koeman.
Bagi Indonesia, perkembangan Jepang ini menjadi cermin bagaimana sebuah tim Asia bisa bersaing di level tertinggi. Dengan pendekatan taktik yang fleksibel dan mentalitas pantang menyerah, Jepang membuktikan bahwa peringkat bukanlah segalanya. Pertandingan melawan Belanda akan menjadi barometer sejauh mana evolusi sepak bola Asia telah berjalan. Apakah Jepang mampu mengulang kejutan seperti di Qatar, atau justru Belanda yang terlalu tangguh? Laga di Dallas akan memberikan jawaban awal.
