Marquinhos Siap Pikul Beban Berat demi Gelar Keenam Brasil di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Bek tengah Brasil, Marquinhos, mengincar gelar Piala Dunia 2026 sebagai puncak karier setelah dua kali juara Liga Champions bersama PSG.
- Kegagalan di perempat final 2018 dan adu penalti 2022 menjadi pelajaran berharga yang memperkuat mentalitasnya sebagai kapten.
- Kedatangan pelatih Carlo Ancelotti diharapkan membawa pengalaman juara dan taktik jitu untuk mengatasi persaingan ketat di Amerika Utara.
Bek tengah Brasil, Marquinhos, menatap Piala Dunia 2026 dengan tekad baja. Di usia 32 tahun, ia sadar ini mungkin kesempatan terakhirnya membawa Seleção meraih gelar keenam. Dua kali juara Eropa bersama PSG, ia kini ingin mengulang sukses di level internasional.
Marquinhos bukan pemain yang asing dengan tekanan. Dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya, langkah Brasil selalu terhenti di perempat final: dikalahkan Belgia 2-1 pada 2018, lalu tersingkir lewat adu penalti melawan Kroasia pada 2022. Tendangan penaltinya yang membentur tiang menjadi kenangan pahit yang terus membayangi.
Namun, pengalaman itu justru menjadi bahan bakar. Menurut Marquinhos, momen sulit adalah ujian sejati bagi seorang pemimpin. "Saat keadaan sulit, Anda harus tampil, memikul tanggung jawab, terutama untuk pemain muda yang belum terbiasa dengan tekanan besar," ujarnya dalam wawancara dengan FIFA.
Kepemimpinannya sudah teruji. Ia kerap menjadi juru bicara tim saat performa menurun atau situasi tidak stabil. "Itu bagian dari tugas kapten. Anda harus tenang, bekerja keras, dan yakin bisa membalikkan keadaan," tambahnya.
Brasil menjalani siklus kualifikasi yang tidak mulus: pergantian pelatih empat kali dan finis di peringkat kelima dari sepuluh tim CONMEBOL. Meski begitu, Marquinhos optimistis. "Kami punya banyak pemain hebat di semua lini. Kami harus terus membentuk identitas dan tahu cara menyakiti lawan," katanya.
Kunci optimisme lain adalah kehadiran Carlo Ancelotti. Pelatih Italia itu disebut Marquinhos sebagai "pemenang serial" yang tahu cara mengubah tim menjadi juara. "Dia membawa percikan baru, keunggulan ekstra yang kami butuhkan menjelang Piala Dunia ini," puji Marquinhos.
Bagi Marquinhos, Piala Dunia bukan sekadar turnamen. Kenangan masa kecilnya saat Brasil juara pada 2002 menjadi pemicu kecintaannya pada sepak bola. "Saya melihat negara kami juara untuk kelima kalinya. Itu menyalakan api gairah saya terhadap sepak bola, Brasil, dan Piala Dunia," kenangnya.
Kini, sebagai kapten, ia berpeluang mengangkat trofi yang sama. "Setiap pemain yang memegang trofi mengatakan itu adalah momen terbesar dalam hidup. Saya ingin merasakannya sendiri. Jika saya menang Piala Dunia, itu akan menjadi puncak hidup dan karier saya," tegasnya.
Pertanyaan besarnya: mampukah Marquinhos dan Brasil mewujudkan mimpi itu di tengah persaingan ketat dari Argentina, Prancis, dan Jerman? Atau justru tekanan sebagai kapten akan menjadi bumerang?



