Skotlandia Menang Beruntung, Suporter Justru Jadi Bintang di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia meraih tiga poin perdana di Piala Dunia setelah mengalahkan Haiti dengan performa buruk namun beruntung.
- Suporter Skotlandia yang dikenal sebagai Tartan Army menciptakan atmosfer luar biasa di stadion, menjadi sorotan utama turnamen.
- Perjalanan jurnalis Pat Nevin mengungkap sisi lain Piala Dunia: jadwal padat, sedikit tidur, dan momen unik bersama penggemar.

Skotlandia akhirnya memecah kebuntuan di Piala Dunia setelah menekuk Haiti dengan skor tipis 1-0, meski penampilan mereka jauh dari kata meyakinkan. Gol tunggal John McGinn yang terdefleksi dua kali menjadi penentu kemenangan, membuat pendukung setia Tartan Army bersorak histeris di Stadion New England Patriots, Foxborough. Namun, di balik hasil tersebut, pertanyaan besar muncul: apakah Skotlandia layak menang atau hanya beruntung?
Laga yang berlangsung dalam suasana magis itu disaksikan lebih dari 50.000 penonton, mayoritas pendukung Skotlandia. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan 'Flower of Scotland' dengan lantang, menciptakan momen yang menurut banyak pengamat lebih berkesan ketimbang gol kemenangan itu sendiri. Pelatih Steve Clarke pun terlihat tersenyum lebar—sesuatu yang jarang terjadi—seolah menyimpan rahasia besar.
Menurut mantan pemain timnas Skotlandia yang kini menjadi komentator, Pat Nevin, kemenangan ini terasa seperti 'perampokan'. "Kami bermain buruk, tetapi tiga poin tetaplah tiga poin. Setelah bertahun-tahun gagal meski tampil heroik, kali ini kami menerima keberuntungan dengan tangan terbuka," tulis Nevin dalam kolomnya di BBC Football Extra. Ia menyoroti betapa Skotlandia harus bertahan mati-matian di menit-menit akhir, sesuatu yang kontras dengan dominasi yang diharapkan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Skotlandia ini mengingatkan pada perjuangan timnas Garuda yang kerap harus puas dengan hasil kurang maksimal meski bermain baik. Namun, ada pelajaran berharga: sepak bola tidak selalu tentang siapa yang terbaik, melainkan siapa yang mampu memanfaatkan peluang. Dukungan suporter yang luar biasa juga menjadi faktor penting, sebagaimana terlihat dari atmosfer yang diciptakan Tartan Army.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga menuai pujian setelah tampil agresif dan menghibur saat mengalahkan Paraguay 3-0. Tim asuhan Gregg Berhalter menunjukkan kecepatan dan semangat juang tinggi, bahkan ketika sudah unggul jauh. "Mereka adalah tim yang menyenangkan untuk ditonton, dengan dukungan penggemar yang ramah dan antusias," tambah Nevin. Ini menjadi modal berharga bagi tuan rumah Piala Dunia 2026 nanti.
Nevin juga berbagi pengalaman unik sebagai jurnalis yang harus bekerja keras di balik layar. Setelah pertandingan, ia harus menulis artikel hingga pukul 3 pagi, lalu bangun lima jam kemudian untuk siaran BBC World Service. Perjalanan kereta dari Boston ke New York pun diwarnai kejadian lucu: seorang petugas Amtrak menegurnya karena berdiri di peron terlalu awal, sementara sekelompok suporter Skotlandia menyanyikan namanya. "Dia mundur dengan bingung dan sedikit khawatir," kenang Nevin.
Ke depan, Skotlandia akan menghadapi lawan-lawan berat. Mampukah mereka mempertahankan keberuntungan? Ataukah performa buruk akan terbayar? Sementara itu, Spanyol yang diperkuat Lamine Yamal akan memulai kampanye mereka, dan Nevin akan menjadi komentator di laga tersebut. Dunia sepak bola terus berputar, dan setiap momen—baik di dalam maupun luar lapangan—layak dikenang.



