Tuchel Adopsi Taktik Bola Mati ala Arsenal demi Sukses di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, memfokuskan latihan pada skema bola mati dengan meniru pendekatan Arsenal yang sukses di Premier League.
- Tinggi rata-rata pemain Inggris yang menjulang menjadi modal utama, namun perubahan aturan VAR memaksa kreativitas lebih dalam eksekusi.
- Jika efektif, strategi ini bisa menjadi pembeda di turnamen yang kerap ditentukan oleh detail kecil seperti gol dari situasi set-piece.

Thomas Tuchel, pelatih kepala Timnas Inggris, tengah gencar mengadaptasi filosofi bola mati ala Arsenal dalam persiapan menuju Piala Dunia 2026. Langkah ini diambil setelah melihat dominasi The Gunners yang mencetak 19 gol dari tendangan sudut di Premier League musim lalu dan sukses merebut gelar liga setelah 22 tahun.
Dalam sesi latihan di Amerika Serikat, Tuchel menekankan pentingnya situasi bola mati sebagai senjata utama. Ia percaya bahwa di turnamen besar, di mana margin kemenangan sangat tipis, gol dari tendangan bebas atau sudut bisa menjadi penentu. Pendekatan ini bukan sekadar tiruan, melainkan strategi terukur dengan memanfaatkan pemain-pemain yang sudah terbukti mahir di klub masing-masing.
Declan Rice, yang dijamin menjadi starter, dikenal sebagai eksekutor corner andalan Arsenal. Kemampuannya dalam memukul bola menjadikannya ancaman serius bagi lawan. Selain itu, Reece Jamesโyang pernah dilatih Tuchel di Chelseaโdan Bukayo Saka juga masuk dalam daftar pengambil bola mati utama. Namun, kondisi tendonitis Saka menjadi perhatian khusus bagi staf medis agar performanya tetap optimal sepanjang turnamen.
Keunggulan fisik juga menjadi faktor. Dari 10 pemain lapangan yang diturunkan saat melawan Kosta Rika, hanya dua yang tingginya di bawah 183 cm. Postur menjulang ini memudahkan Inggris dalam duel udara, terutama saat memanfaatkan skema blocking untuk membebaskan pemain di kotak penalti lawan.
Meski demikian, perubahan aturan VAR menjadi tantangan baru. Wasit video kini bisa menganulir gol jika terjadi pelanggaran blocking sebelum bola dimainkan. Untuk mengakalinya, Inggris mengembangkan variasi: pemain bergerak maju seolah berduel secara alami, lalu umpan silang melengkung (outswinging) diarahkan ke ruang kosong di depan kerumunan. Hasilnya, John Stones dan Dan Burn berhasil mendapat sundulan bebas saat melawan Selandia Baru.
Tuchel juga meminjam skema yang sukses digunakan Manchester United melawan Tottenham musim ini. Umpan datar ke tiang dekat yang dilanjutkan dengan operan ke tepi kotak penalti menciptakan peluang tembakan tanpa tekanan. Dalam laga uji coba, Inggris sudah memperagakan variasi ini dan menghasilkan ancaman nyata ke gawang lawan.
Bagi Indonesia, strategi bola mati Inggris ini relevan mengingat Timnas Garuda juga kerap mengandalkan postur pemain dalam situasi set-piece. Pelatih Shin Tae-yong bisa mengambil pelajaran dari pendekatan Tuchel yang memadukan kreativitas dan disiplin taktik. Di level Asia, detail seperti ini sering menjadi pembeda, terutama saat menghadapi tim dengan pertahanan rapat.
Pertanyaan besarnya, akankah taktik bola mati ala Arsenal ini cukup membawa Inggris merebut trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1966? Atau justru perubahan aturan VAR akan menggagalkan rencana Tuchel? Jawabannya akan terlihat saat turnamen bergulir.



