Vitamin C Bisa Menjaga Volume Otak? Studi Baru pada Lansia Jepang Beri Petunjuk
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terhadap 2.000 lansia Jepang mengaitkan kadar vitamin C plasma rendah dengan volume materi abu-abu otak yang lebih kecil dan konektivitas otak yang menurun.
- Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa asupan vitamin C yang cukup dapat menjadi faktor pelindung terhadap penuaan kognitif, meski belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
- Para ahli menekankan pentingnya pola makan kaya vitamin C dari buah dan sayur, bukan suplemen dosis tinggi, sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan otak.

Kadar vitamin C dalam darah yang rendah pada lansia ternyata berkaitan dengan penyusutan volume materi abu-abu otak dan menurunnya konektivitas antar jaringan saraf, demikian temuan studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal PLOS One. Temuan ini membuka peluang baru dalam upaya memperlambat penuaan kognitif melalui intervensi gizi sederhana.
Peneliti dari Hirosaki University, Jepang, menganalisis sampel darah dan pemindaian MRI dari sekitar 2.000 partisipan berusia di atas 64 tahun. Mereka mengukur volume materi abu-abu dan putih otak, serta kadar vitamin C dalam plasma darah. Hasilnya, partisipan dengan kadar vitamin C rendah secara konsisten menunjukkan volume materi abu-abu yang lebih kecil dan konektivitas yang lebih rendah dalam default mode network (DMN), jaringan otak yang aktif saat istirahat dan berperan dalam memori serta introspeksi.
“Vitamin C adalah antioksidan vital, dan konsentrasinya di otak lebih dari dua kali lipat dibandingkan di darah,” ujar Tomohiro Shintaku, MD, PhD, asisten profesor di Departemen Radiologi Hirosaki University dan penulis utama studi. Ia menambahkan bahwa penelitian sebelumnya hanya menghubungkan diet kaya vitamin C dengan risiko gangguan kognitif, tetapi belum ada yang mengkaji secara langsung hubungan kadar vitamin C plasma dengan jaringan otak skala besar. Studi ini menjembatani celah tersebut.
Penurunan volume materi abu-abu umumnya mencerminkan atrofi otak dan hilangnya neuron. Sementara itu, rendahnya konektivitas DMN merupakan manifestasi awal gangguan kognitif. “Menjaga kadar vitamin C optimal berpotensi mendukung mitigasi penurunan kognitif terkait usia dan mempertahankan integritas jaringan otak,” jelas Shintaku. Namun, ia mengakui bahwa karena studi bersifat cross-sectional, belum dapat disimpulkan hubungan sebab-akibat. Langkah selanjutnya adalah studi longitudinal untuk mengamati perubahan temporal.
Peter Gliebus, MD, kepala neurologi di Marcus Neuroscience Institute, Florida, yang tidak terlibat dalam penelitian, menyambut optimis temuan ini. “Ini menunjukkan cara sederhana dan mudah diakses untuk mendukung kesehatan otak. Menjaga kadar vitamin C yang memadai dapat membantu mempertahankan konektivitas di wilayah otak kunci,” katanya. Ia menekankan pentingnya memahami bagaimana penyerapan nutrisi menurun seiring usia dan bagaimana defisiensi dapat berdampak pada fungsi otak.
Dung Trinh, MD, internis di MemorialCare Medical Group dan kepala medis Healthy Brain Clinic, California, mengingatkan agar temuan ini ditafsirkan hati-hati. “Studi ini tidak membuktikan bahwa vitamin C mencegah penurunan kognitif atau bahwa suplemen akan memperbaiki kesehatan otak. Ini lebih merupakan sinyal bahwa status vitamin C adalah salah satu bagian dari gambaran besar kesehatan otak,” ujarnya. Trinh menyarankan agar penelitian direplikasi pada populasi yang lebih beragam dan dilanjutkan dengan uji klinis acak.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat pola konsumsi buah dan sayur yang masih rendah di sebagian kelompok usia lanjut. Alih-alih tergesa-gesa mengonsumsi suplemen dosis tinggi, para ahli menyarankan untuk mempertahankan pola makan sehat yang kaya vitamin C dari sumber alami seperti jeruk, jambu biji, dan brokoli, serta menggabungkannya dengan kebiasaan lain yang terbukti baik untuk otak, seperti olahraga teratur dan stimulasi kognitif. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah optimalisasi asupan vitamin C benar-benar dapat mengubah lintasan penuaan otak, atau hanya menjadi satu dari sekian banyak faktor yang saling terkait?



