Studi Ungkap Kekurangan Flavanol: Risiko Jantung Mengintai Meski Rajin Makan 5 Porsi Buah dan Sayur
Baca dalam 60 detik
- Hanya 1 dari 5 orang dewasa di AS dan Inggris mencapai asupan flavanol harian yang direkomendasikan untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
- Konsumsi 5 porsi buah dan sayur sehari belum cukup jika tidak memilih jenis yang kaya flavanol, seperti apel, beri, dan teh hijau.
- Para ahli menyarankan diversifikasi pangan nabati dan fokus pada makanan tinggi flavanol untuk perlindungan jantung yang lebih optimal.

Kebiasaan mengonsumsi lima porsi buah dan sayur setiap hari—yang selama ini digaungkan sebagai kunci hidup sehat—ternyata belum menjamin perlindungan optimal terhadap penyakit jantung. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Food & Function mengungkap bahwa kurang dari satu dari lima orang dewasa di Amerika Serikat dan Inggris mencapai asupan flavanol harian yang direkomendasikan, meskipun mereka rutin memenuhi anjuran “5 a day”.
Flavanol, senyawa tanaman yang dikenal karena sifat antioksidan dan anti-inflamasinya, memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah dan menurunkan risiko kardiovaskular. Penelitian sebelumnya, termasuk uji coba terkontrol acak COSMOS, telah menunjukkan bahwa flavanol dapat mengurangi kematian akibat penyakit jantung. Namun, temuan baru ini menunjukkan bahwa sebagian besar populasi masih kekurangan senyawa tersebut dalam menu harian mereka.
Gunter G. C. Kuhnle, profesor ilmu gizi dan pangan dari University of Reading yang menjadi penulis senior studi tersebut, menjelaskan bahwa asupan flavanol rata-rata di Inggris hanya sekitar 250 mg per hari, dengan lebih dari separuh populasi mengonsumsi kurang dari 150 mg. Padahal, American Academy of Nutrition and Dietetics merekomendasikan asupan 400–600 mg flavanol setiap hari untuk menekan risiko penyakit jantung. “Diet adalah salah satu faktor risiko utama yang bisa dimodifikasi, namun masih banyak senyawa seperti flavanol yang kurang mendapat perhatian,” ujar Kuhnle.
Menurut Kuhnle, pesan “5 a day” memang penting, tetapi perlu dilengkapi dengan edukasi tentang pemilihan jenis buah dan sayur yang kaya senyawa spesifik. “Kami menggunakan flavanol sebagai model, tetapi hal yang sama kemungkinan berlaku untuk vitamin, mineral, atau karotenoid,” katanya. Ia mendorong adanya rekomendasi yang lebih beragam dan menekankan makanan dengan kandungan senyawa tertentu.
Cheng-Han Chen, ahli jantung intervensi dari MemorialCare Saddleback Medical Center di California, yang tidak terlibat dalam penelitian, menambahkan bahwa pemahaman publik tentang makanan kaya flavanol perlu ditingkatkan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa buah dan sayur tetap mengandung banyak nutrisi lain seperti vitamin, mineral, dan serat. “Saya tetap merekomendasikan konsumsi buah dan sayur sebanyak mungkin untuk kesehatan jantung,” ujarnya. Chen juga menekankan bahwa penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian nomor satu di AS, sehingga pemahaman tentang pola makan yang tepat sangat krusial.
Monique Richard, seorang ahli diet terdaftar, menawarkan tips praktis untuk meningkatkan asupan flavanol. Menurutnya, nutrisi bukan sekadar menghitung porsi, melainkan tentang keragaman senyawa alami dalam makanan. Beberapa sumber flavanol paling kaya antara lain apel dengan kulit, blackberry, blueberry, anggur, teh hijau dan hitam, kakao, cokelat hitam minimal 70% kakao, pir, dan kacang fava. “Kombinasi satu apel, segenggam blackberry, secangkir teh hijau, dan satu porsi kakao dalam sehari sudah cukup memberikan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular,” jelas Richard.
“Tujuannya bukan hanya fokus pada satu nutrisi atau kelompok antioksidan tertentu. Melainkan menciptakan, menikmati, dan menghargai makanan serta minuman nabati yang berwarna dan bervariasi, dengan niat dan cinta, secara teratur, untuk memastikan pengiriman ribuan senyawa yang bekerja selaras dengan alam dan tubuh Anda.” – Monique Richard, MS, RDN, LDN
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat pola makan tradisional yang kaya akan sayur dan buah, namun belum tentu mencakup sumber flavanol yang optimal. Konsumsi teh hitam dan hijau yang populer di Indonesia bisa menjadi salah satu cara mudah meningkatkan asupan flavanol. Namun, diversifikasi dengan menambahkan buah beri, apel, dan cokelat hitam ke dalam menu harian dapat memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan jantung. Pertanyaan selanjutnya: apakah kampanye “Isi Piringku” yang digalakkan pemerintah perlu menyertakan panduan khusus tentang senyawa bioaktif seperti flavanol?



