Buah Beku dan Sayuran Kalengan: Alternatif Sehat atau Sekadar Murah?
Baca dalam 60 detik
- Buah dan sayuran beku atau kalengan tidak kalah nutrisi dibandingkan produk segar, bahkan dalam beberapa kasus kandungan vitaminnya lebih tinggi.
- Meski lebih terjangkau dan tahan lama, konsumen perlu waspada terhadap kandungan garam dan gula tambahan pada produk olahan.
- Pilihan seperti kacang-kacangan kering bisa menjadi alternatif lebih hemat dan bergizi, meski memerlukan waktu persiapan lebih lama.

Di tengah tekanan biaya hidup yang kian meningkat, banyak masyarakat mulai melirik buah beku dan sayuran kalengan sebagai pilihan praktis dan ekonomis. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah produk olahan ini menyimpan nilai gizi yang setara dengan saudara segarnya?
Panduan Gizi Seimbang yang dianjurkan di berbagai negara, termasuk Australia, menyarankan konsumsi setidaknya dua porsi buah dan lima porsi sayuran setiap hari. Kabar baiknya, porsi tersebut dapat dipenuhi dari produk beku maupun kalengan. Sebagai contoh, setengah cangkir brokoli beku atau setengah cangkir kacang kalengan dihitung sebagai satu porsi sayuran. Sementara itu, satu cangkir buah persik kalengan atau mangga beku potong dadu setara dengan satu porsi buah.
Dari segi kandungan gizi, penelitian menunjukkan bahwa buah dan sayuran beku atau kalengan umumnya mempertahankan nilai nutrisi aslinyaโbahkan terkadang lebih unggul dibandingkan produk segar yang telah disimpan di lemari es selama seminggu. Contoh menarik adalah aprikot beku yang memiliki kadar vitamin C jauh lebih tinggi ketimbang aprikot segar, karena vitamin C digunakan dalam proses pengawetan. Metode pembekuan industri modern juga efektif mempertahankan warna, tekstur, dan nutrisi, meskipun pembentukan kristal es akibat pembekuan ulang dapat merusak struktur dan mengurangi kandungan gizi.
Proses pengalengan, yang melibatkan sterilisasi pada suhu tinggi, memang berpotensi merusak vitamin yang larut dalam air seperti vitamin C. Namun, kemajuan teknologi memungkinkan proses berlangsung lebih cepat dan pada suhu lebih rendah, sehingga kehilangan nutrisi dapat diminimalkan. Risiko kontaminasi bakteri Listeria monocytogenes pada produk beku juga dapat ditekan dengan memasak bahan pangan sebelum dikonsumsi.
Meski demikian, konsumen perlu cermat saat memilih produk kalengan. Sayuran kalengan kerap mengandung garam tinggi; pilihlah yang bertuliskan "tanpa garam tambahan" atau bilas sebelum dikonsumsi. Untuk buah kalengan, hindari produk yang direndam sirup dan pilihlah yang dikemas dalam jus atau berlabel "tanpa gula tambahan". Kacang panggang dalam saus juga perlu diperhatikan karena sausnya bisa mengandung gula dan garam tambahan.
Di dapur, buah dan sayuran beku atau kalengan menawarkan fleksibilitas tinggi. Kacang polong beku dan edamame hanya membutuhkan beberapa menit memasak, cocok ditambahkan ke dalam tumisan atau sup. Sementara itu, lentil, buncis, atau kacang-kacangan kalengan dapat memperkaya semur atau saus pasta dengan serat dan protein. Alternatif yang lebih hemat adalah kacang-kacangan kering, yang memiliki umur simpan panjang meski memerlukan perendaman sebelum dimasak.
Buah kering, meskipun praktis, tidak disarankan sebagai pengganti harian karena kandungan gulanya yang lebih pekat. Namun, sesekali bisa dinikmati sebagai camilan.
Dengan semakin mudahnya akses terhadap produk beku dan kalengan, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal mana yang lebih sehat, melainkan bagaimana memilih dan mengolahnya dengan bijak. Akankah masyarakat Indonesia mulai beralih ke alternatif ini untuk memenuhi kebutuhan gizi harian tanpa membebani anggaran?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8071711/original/001848000_1780916712-IMG_4123.jpeg)
