China Tuding AS Lakukan 'Hegemoni AI', Ancam Ambil Langkah Balasan
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Perdagangan China mengecam tuduhan Washington tentang pencurian kekayaan intelektual AI sebagai bentuk hegemoni dan siap mengambil tindakan balasan.
- Startup Moonshot AI menjadi pusat sengketa setelah dituduh menyedot model Claude milik Anthropic secara sistematis untuk mengembangkan Kimi K3.
- Jika daftar hitam diberlakukan, akses China terhadap semikonduktor dan layanan cloud AS akan terhambat, mengancam ekosistem AI global termasuk Indonesia.

China secara resmi menuding Amerika Serikat menerapkan praktik hegemoni di bidang kecerdasan buatan (AI) dan mengancam akan mengambil langkah balasan menyusul pernyataan pejabat tinggi AS yang menyebut perusahaan AI China bisa dijatuhi sanksi dan larangan dagang. Kementerian Perdagangan China, Senin (27/7), menyatakan tuduhan Washington bahwa perusahaan China mencuri teknologi AS melalui teknik distilasi model tidak memiliki dasar hukum dan faktual.
Teknik distilasi model merupakan metode pelatihan AI yang lazim digunakan di seluruh dunia, di mana pengembang memanfaatkan keluaran model yang lebih canggih untuk melatih sistem lain. Namun, AS membedakan antara distilasi yang sah dan ekstraksi berskala besar yang dianggap sebagai pelanggaran hak kekayaan intelektual. Perseteruan ini berpusat pada startup Beijing, Moonshot AI, yang model terbarunya, Kimi K3, menuai kekaguman atas kemampuan coding-nya dan memicu perdebatan di Washington apakah China hanya menjiplak atau benar-benar mengejar ketertinggalan melalui riset mandiri.
Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih, Michael Kratsios, pekan lalu mengungkapkan bahwa pemerintah AS memiliki bukti Moonshot melakukan distilasi terhadap model Claude Fable 5 milik Anthropic untuk mengembangkan Kimi K3. Kratsios juga menuduh Moonshot membangun platform internal yang canggih untuk melakukan distilasi skala besar dan beralih di antara berbagai metode akses untuk menghindari deteksi. Lebih lanjut, ia menduga perusahaan tersebut membeli server dengan chip GB300 buatan Nvidia dan mengakses sistem serupa di Thailand untuk melatih model mereka.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa perusahaan China dapat menghadapi sanksi keuangan atau dimasukkan ke dalam Entity List Departemen Perdagangan, yang membatasi akses terhadap teknologi AS. "Kami mendukung AI sumber terbuka dan inovasi yang dihasilkannya. Namun, sumber terbuka bukanlah izin bebas untuk merampok properti intelektual Amerika," tulis Bessent di platform X. Moonshot membantah tuduhan tersebut dan mengklaim peningkatan performa Kimi K3 berasal dari perubahan arsitektur dasar yang orisinal.
Dampak dari sengketa ini tidak hanya terbatas pada perusahaan di kedua negara. Jika Moonshot benar-benar masuk daftar hitam, akses terhadap semikonduktor, perangkat lunak, dan layanan cloud AS akan terputus—seperti yang terjadi pada Huawei sejak 2019. Bagi Indonesia, ketegangan ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok teknologi. Negeri ini yang tengah mengembangkan ekosistem AI melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk China dan AS, harus mencermati risiko fragmentasi global yang dapat menghambat adopsi AI di sektor pendidikan, kesehatan, dan industri.
Ketegangan ini mengingatkan pada reaksi AS terhadap kemunculan DeepSeek tahun lalu, yang juga dituduh melakukan praktik serupa. Bedanya, kasus Moonshot melibatkan tuduhan yang lebih terstruktur—dari akun palsu hingga server di luar negeri. Sementara China menegaskan akan mengambil "semua tindakan yang diperlukan" untuk melindungi kepentingannya, para analis memperkirakan eskalasi dapat memicu perang teknologi yang lebih luas, termasuk pembatasan ekspor AI dari kedua sisi.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah: akankah tuduhan ini mempercepat upaya China untuk menciptakan ekosistem AI yang sepenuhnya mandiri? Atau sebaliknya, sanksi justru memicu inovasi yang lebih orisinal dari perusahaan China? Bagi Indonesia, momentum ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat posisi sebagai mitra netral dalam pengembangan AI global, dengan menarik investasi dari kedua kubu yang mencari pasar alternatif.



