Pemukim Israel Bakar Dua Masjid di Tepi Barat, Eskalasi Kekerasan Makin Tak Terkendali
Baca dalam 60 detik
- Pemukim Israel membakar dua masjid di desa Qusra dan Kour, Tepi Barat, sebagai buntut bentrokan yang menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel.
- Perdana Menteri Netanyahu merespons dengan operasi keamanan besar-besaran, sementara Otoritas Palestina mengecam aksi terorisme yang didukung negara.
- Indonesia kembali mengecam keras kekerasan ini dan mendesak komunitas internasional mengambil tindakan nyata menghentikan pendudukan Israel.

Pemukim Israel kembali melancarkan aksi brutal dengan membakar dua masjid di Tepi Barat, Minggu (26/7) dini hari, hanya dua hari setelah bentrokan berdarah yang menewaskan enam orang. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan di wilayah Palestina yang terus memanas menjelang pemilu Israel.
Menurut pejabat Palestina, sekelompok pemukim bersenjata menyerbu desa Qusra, tenggara Nablus, dan membakar habis masjid yang baru selesai dibangun. Kepala desa Qusra, Abdel Azim Wadi, mengatakan masjid itu sudah siap digunakan, lengkap dengan perabotan. Mereka juga mencoret-coret dinding dengan kata-kata bernada balas dendam, termasuk nama salah satu tentara Israel yang tewas dalam bentrokan Jumat lalu di desa Tal. Di lokasi lain, upaya pembakaran masjid di dekat Kour berhasil digagalkan warga yang sedang shalat subuh.
Bentrokan Jumat lalu bermula saat rombongan pemukim mendekati desa Tal, memicu perlawanan warga. Video yang beredar memperlihatkan seorang warga Palestina merampas senjata pemukim. Kedua pihak saling tembak, mengakibatkan tewasnya empat warga Palestina dan dua tentara Israel, satu di antaranya bertugas sebagai koordinator keamanan di pemukiman terdekat. Otoritas Palestina menyebut pemukim sebagai provokator, sementara militer Israel mengklaim tembakan datang dari kedua belah pihak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menghadapi pemilu Oktober mendatang, memerintahkan pengiriman pasukan tambahan ke Tepi Barat dan pembatalan cuti tentara. Ia menyebut aksi kekerasan terhadap warga Israel sebagai terorisme. Sebaliknya, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, tokoh sayap kanan, justru mendorong aneksasi penuh Tepi Barat. Militer Israel mengaku menangkap lebih dari 130 orang selama akhir pekan, termasuk penyelundup senjata dan kader Hamas.
Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar berita luar negeri. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dan anggota OKI, Jakarta secara konsisten mengecam kekerasan pemukim dan mendukung perjuangan Palestina. Kementerian Luar Negeri RI dalam pernyataan resmi kembali menyerukan diakhirinya pendudukan Israel serta perlunya solusi dua negara yang adil. Publik Indonesia pun kerap menggelar aksi solidaritas, terutama saat terjadi eskalasi seperti sekarang.
Pernyataan Otoritas Palestina menegaskan bahwa serangan ini adalah bagian dari pola terorisme yang didukung negara. "Terorisme pemukim yang didukung Israel meningkat menjadi pogrom sistematis di seluruh Tepi Barat," demikian bunyi pernyataan kantor perdana menteri Palestina. Sementara itu, militer Israel mengaku menyelidiki insiden pembakaran masjid dan mengirim polisi untuk mengumpulkan bukti.
Dengan intensitas kekerasan yang terus meningkat, pertanyaan mendasar pun mengemuka: akankah komunitas internasional mampu menghentikan siklus balas dendam di Tepi Barat sebelum semakin banyak korban berjatuhan? Atau konflik ini akan terus memanas menjelang pemilu Israel dan berujung pada aneksasi yang lebih luas?



