Carly Simon Berjuang Melawan Parkinson dan Kanker: 'Saya Belum Berhenti Hidup'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi legendaris Carly Simon, 83, secara terbuka mengungkap diagnosis penyakit Parkinson dan kanker kulit basal yang membuatnya mundur dari sorotan publik.
- Kondisi kesehatannya memengaruhi mobilitas dan memicu kecemasan, namun ia tetap produktif dengan merilis album baru pertamanya dalam 16 tahun.
- Album 'Comes in Waves' menjadi medium terapi baginya, meskipun Simon menegaskan bahwa penyakit bukanlah anugerah melainkan ujian yang harus dijalani.

Penyanyi legendaris Carly Simon untuk pertama kalinya secara terbuka mengumumkan bahwa dirinya didiagnosis mengidap penyakit Parkinson dan baru saja menjalani operasi pengangkatan kanker kulit basal. Dalam sebuah pernyataan panjang yang dirilis pada Selasa, Simon menjelaskan bahwa kondisi inilah yang membuatnya memilih untuk ‘hibernasi’ dari kehidupan publik dalam beberapa tahun terakhir.
Pelantun “You’re So Vain” yang kini berusia 83 tahun itu mengaku awalnya mengira gangguan berjalannya hanyalah efek samping dari operasi penggantian lutut dan pinggul akibat radang sendi. Namun, setelah kondisinya memburuk hingga nyaris tak bisa berjalan tanpa bantuan, ia menjalani evaluasi menyeluruh di Mayo Clinic dan mendapatkan diagnosis Parkinson. “Keluarga saya dan saya tahu ada sesuatu yang lebih serius,” ungkapnya.
Simon juga menceritakan bahwa ia dirawat karena karsinoma sel basal di wajahnya. Meski kanker berhasil diangkat, bekas operasi mengubah penampilannya dan memperkuat rasa tidak percaya diri yang sudah lama ia pendam. “Inner critic saya mendapat banyak amunisi baru,” ujarnya dengan nada ironis, merujuk pada lagunya yang terkenal tentang kesombongan.
Penyanyi yang pernah memenangi Grammy dan Oscar ini mengakui bahwa Parkinson tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga mental. Ia mengalami kelelahan ekstrem, kecemasan, depresi, dan yang paling aneh adalah apatia. “Kau terbaring seperti bintang laut yang mengering di bawah sinar matahari, tanpa ada dorongan untuk bangun, membaca, atau menelepon siapa pun,” deskripsinya. Bagi Simon, bagian tersulit adalah menjelaskan bahwa apatia ini bukan kemalasan, melainkan “otak yang kehilangan undangan untuk berpartisipasi dalam kehidupan.”
Di tengah pergulatannya, Simon justru menemukan pelipur lara dalam musik. Ia mulai merekam album baru, Comes in Waves, yang berisi lagu-lagu dan fragmen yang telah lama tertunda. “Musik selalu tahu kapan harus datang. Ia seperti kucing atau anjing yang diam-diam muncul di sampingmu saat merasakan kau tak seperti biasanya,” katanya. Album ini memberinya struktur di hari-hari yang kacau dan mengingatkannya bahwa penyakit tidak bisa mengambil alih seluruh hidupnya.
Simon menegaskan bahwa ia tidak menganggap Parkinson sebagai hadiah atau anugerah. “Ini sulit, membuat frustrasi, dan kadang menakutkan,” tegasnya. Namun, ia bertekad untuk terus menulis, bernyanyi, dan tertawa – meski sesekali masih terjebak di kursi empuk yang terlalu dalam. Bagi penggemar di Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa bahkan ikon sekaliber Carly Simon pun harus berhadapan dengan kerapuhan manusiawi, sekaligus bukti bahwa kreativitas bisa menjadi oasis di tengah badai penyakit.



