Edin Dzeko: Sang Kapten yang Membawa Bosnia ke Panggung Dunia untuk Kedua Kalinya
Baca dalam 60 detik
- Bosnia-Herzegovina lolos ke Piala Dunia 2026 setelah 12 tahun absen, dengan kapten Edin Dzeko yang berusia 40 tahun masih menjadi motor utama.
- Dzeko, yang selamat dari perang dan genosida, menjadi simbol ketangguhan bangsa yang terpecah belah secara politik dan ekonomi.
- Generasi baru pemain diaspora, seperti Esmir Bajraktarevic, memberikan harapan bagi masa depan sepak bola Bosnia di tengah minimnya infrastruktur.

Edin Dzeko, kapten tim nasional Bosnia-Herzegovina, akan memimpin negaranya di Piala Dunia 2026—sebuah pencapaian yang terasa seperti akhir dari sebuah perjalanan panjang sekaligus awal baru bagi sepak bola Bosnia. Pada usia 40 tahun, Dzeko bukan hanya pemain tertua di skuad, tetapi juga jembatan antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang penuh harapan.
Bosnia lolos ke turnamen empat tahunan ini setelah menaklukkan Italia melalui adu penalti di babak play-off, menyusul kemenangan dramatis atas Wales. Ini adalah partisipasi kedua Bosnia setelah debut mereka di Brasil 2014. Namun, perjalanan menuju Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat itu terasa lebih berat secara emosional. Selama 12 tahun, Bosnia gagal melewati babak play-off, menciptakan luka dan skeptisisme di kalangan penggemar. Kini, dengan skuad yang diperkuat 17 pemain diaspora—lahir di luar negeri dari orang tua Bosnia—tim ini merepresentasikan wajah baru bangsa yang masih bergulat dengan warisan perang.
Dzeko adalah simbol ketangguhan itu. Ia mengalami masa kecil di Sarajevo yang terkepung selama perang Bosnia (1992–1995), kehilangan rumah, dan nyaris menjadi korban serangan mortir yang menewaskan anak-anak di lapangan sepak bola tempatnya bermain. Dari pengalaman traumatis itulah lahir “Bosnian Diamond”—julukan yang melekat padanya. Kini, ia menjadi pemain pertama yang mencetak 50 gol di tiga liga top Eropa (Premier League, Bundesliga, Serie A) dan tetap rendah hati. Menurut jurnalis Bosnia Sasa Ibrulj, “Kariernya terhubung dengan citra negara: ketahanan, kegigihan, dan membuktikan orang salah.”
Bagi Indonesia, kisah Dzeko dan Bosnia menawarkan pelajaran tentang bagaimana sepak bola bisa menjadi alat rekonsiliasi dan kebanggaan nasional. Bosnia, dengan populasi hanya 3 juta jiwa dan infrastruktur olahraga yang minim, mampu bersaing di level tertinggi berkat semangat “Bosanski Inat”—sikap keras kepala dan pantang menyerah. Di Indonesia, di mana sepak bola sering terbelah oleh rivalitas klub dan politik, semangat serupa bisa menjadi inspirasi untuk membangun tim nasional yang solid. Apalagi, Indonesia juga memiliki diaspora besar yang potensial untuk memperkuat skuad Garuda di masa depan.
Dzeko bukan sekadar pemain; ia adalah figur yang melampaui olahraga. Setelah video pemain Italia yang diduga meremehkan Bosnia menjadi viral, Dzeko meminta pendukungnya untuk menghormati lagu kebangsaan Italia, mengingat bahwa Italia adalah tim pertama yang mengunjungi Bosnia pasca-perang. Sikapnya mencerminkan kepemimpinan yang jarang ditemukan. Mantan kiper Bosnia Asmir Begovic mengatakan, “Dia mempersatukan semua orang. Dia bukan pemimpin yang vokal, tapi memimpin dengan teladan.”
Meski usianya sudah kepala empat, Dzeko masih produktif. Ia mencetak gol penyeimbang di menit akhir melawan Wales dan memberikan assist untuk gol penyeimbang melawan Italia. “Sepuluh tahun lalu saya pikir tidak akan bermain di usia 40,” ujarnya. “Tapi saya mendengarkan tubuh saya dan bekerja keras.”
Kini, Bosnia tergabung di Grup B bersama Kanada, Swiss, dan Qatar. Laga perdana melawan tuan rumah Kanada akan menjadi ujian awal. Namun, terlepas dari hasil di lapangan, kehadiran Bosnia di Piala Dunia 2026 telah memberikan harapan baru bagi generasi muda yang lahir setelah perang. Seperti dikatakan Ibrulj, “Di negara yang sulit mempercayai institusi, figur seperti Dzeko menjadi lebih besar dari olahraga itu sendiri.” Pertanyaannya, bisakah Bosnia melampaui capaian 2014 dan menulis babak baru yang lebih gemilang?



