Tottenham Beralih ke Bek Muda Brugge: Solusi Lini Belakang dengan Harga Setengah dari Van Hecke
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur mengincar Joel Ordonez, bek tengah Club Brugge berusia 22 tahun, sebagai alternatif lebih murah dari Jan Paul van Hecke yang dibanderol £70 juta.
- Ordonez unggul dalam duel udara, recoveri bola, dan akurasi umpan dibanding Van Hecke musim lalu, dengan banderol hanya £40 juta.
- Persaingan merekrut Ordonez melibatkan Chelsea dan Liverpool, menjadikan Spurs sebagai favorit sementara menurut laporan Daily Briefing.

Tottenham Hotspur dikabarkan memprioritaskan perekrutan bek tengah muda Club Brugge, Joel Ordonez, sebagai opsi yang lebih ekonomis ketimbang memburu Jan Paul van Hecke dari Brighton & Hove Albion. Langkah ini diambil di tengah kebutuhan mendesak memperkuat pertahanan setelah dua musim beruntun finis di peringkat ke-17 Premier League.
Dalam dua musim terakhir, Spurs menelan 39 kekalahan dari 76 pertandingan liga—catatan yang membuat mereka kalah dalam lebih dari separuh laga sejak Agustus 2024. Kedatangan Roberto De Zerbi sebagai pelatih baru membawa secercah harapan, tetapi Italia berusia 47 tahun itu sadar bahwa perombakan skuad besar-besaran mutlak diperlukan pada bursa transfer musim panas ini.
Kepergian Cristian Romero yang santer dirumorkan hengkang membuat lini belakang Tottenham semakin rapuh. Manajemen klub pun menyusun daftar target, dengan nama Jan Paul van Hecke mencuat sebagai prioritas awal. Namun, Brighton membanderol bek Belanda itu dengan harga selangit: £70 juta—angka yang akan memecahkan rekor transfer Spurs. Tawaran pertama klub London utara itu pun telah ditolak.
Di sinilah nama Joel Ordonez muncul sebagai alternatif yang jauh lebih terjangkau. Pemain timnas Ekuador berusia 22 tahun itu dihargai sekitar £40 juta oleh Club Brugge, atau £30 juta lebih murah dari Van Hecke. Menurut laporan Daily Briefing, Tottenham memimpin perburuan tanda tangan Ordonez, meski Chelsea dan Liverpool juga ikut memantau situasinya.
Meski belum berpengalaman di Premier League, statistik Ordonez musim lalu menunjukkan performa yang lebih unggul dalam berbagai aspek defensif. Talent scout Jacek Kulig bahkan menyebutnya sebagai pemain yang “luar biasa”. Dengan 46 penampilan di semua kompetisi, bek kanan itu membuktikan ketangguhan fisik dan kemampuannya membaca permainan.
Keputusan Tottenham untuk mengalihkan fokus ke Ordonez juga mempertimbangkan aspek finansial. Dengan selisih harga £30 juta, klub bisa mengalokasikan dana untuk memperkuat posisi lain yang juga rapuh. De Zerbi sendiri dikenal sebagai pelatih yang gemar membangun serangan dari lini belakang, dan Ordonez dinilai memiliki kualitas umpan yang memadai untuk menjalankan peran tersebut.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak karena menunjukkan bagaimana klub-klub besar Eropa mulai melirik pemain dari liga non-unggulan seperti Belgia. Jika transfer ini terealisasi, Ordonez bisa menjadi contoh sukses pemain Amerika Selatan yang menembus Premier League lewat jalur alternatif, bukan dari klub-klub raksasa Eropa.
Pertanyaan yang tersisa: mampukah Tottenham memenangi persaingan dengan Chelsea dan Liverpool? Atau akankah banderol £40 juta tetap menjadi batu sandungan bagi klub yang tengah berhemat?



