Meksiko dan Korsel Buka Piala Dunia dengan Kemenangan Dramatis
Baca dalam 60 detik
- Meksiko mengakhiri kutukan laga pembuka Piala Dunia setelah mengalahkan Afrika Selatan 2-0 berkat gol Quinones dan Jimenez.
- Korea Selatan membalikkan keadaan melawan Ceko melalui aksi Hwang Inbeom yang mencetak gol dan assist di Guadalajara.
- Pelatih tertua sepanjang sejarah Piala Dunia, Miroslav Koubek (74 tahun), memecahkan rekor usai memimpin Ceko.
Meksiko akhirnya mematahkan kutukan laga perdana Piala Dunia. Tim berjuluk El Tri itu sukses menundukkan Afrika Selatan 2-0 di Stadion Azteca, Mexico City, dalam pertandingan pembuka Grup A yang berlangsung Jumat (12/6) waktu setempat. Dua gol dari Julian Quinones dan Raul Jimenez memastikan kemenangan yang sudah lama dinanti publik tuan rumah.
Tekanan besar menghinggapi skuad asuhan Javier Aguirre. Sebelumnya, Meksiko selalu gagal memenangi laga pertama Piala Dunia dalam empat edisi beruntun. Kekalahan demi kekalahan membuat suporter frustrasi. Namun, dengan dukungan lebih dari 80.000 penonton yang memadati stadion, Aguirre dan anak asuhnya mampu menjawab keraguan. Quinones membuka keunggulan pada menit awal, lalu Jimenez memastikan kemenangan di babak kedua. Euforia pecah ketika remaja 17 tahun Gilberto Mora turun sebagai pemain termuda keenam dalam sejarah Piala Dunia.
Di sisi lain, Korea Selatan harus bekerja lebih keras untuk meraih poin penuh. Berlaga di Guadalajara, Taegeuk Warriors sempat tertinggal lebih dulu akibat gol sundulan Ladislav Krejci. Kiper Ceko, Matej Kovar, tampil gemilang menggagalkan berbagai peluang dari Son Heungmin dan kawan-kawan. Namun, perlawanan Korea Selatan tidak patah. Hwang Inbeom menjadi pahlawan dengan mencetak gol penyama kedudukan melalui tendangan lob yang cerdik, lalu memberikan assist untuk gol kemenangan yang disarangkan pemain pengganti Oh Hyeongyu.
Bagi Indonesia, hasil ini menjadi pengingat betapa pentingnya mentalitas pantang menyerah seperti yang ditunjukkan Korea Selatan. Dalam konteks sepak bola Asia, kebangkitan Korsel menegaskan bahwa tim-tim Asia mampu bersaing dengan fisik dan taktik tim Eropa. Keberhasilan Hwang Inbeom menjadi motor serangan juga bisa menjadi inspirasi bagi pemain-pemain muda Indonesia yang bercita-cita menembus panggung dunia.
Pertandingan ini juga mencatat sejarah unik di bangku pelatih. Otto Rehhagel yang memimpin Yunani pada 2010 sempat menjadi pelatih tertua, namun rekor itu dipecahkan oleh Hugo Broos (Afrika Selatan) dan akhirnya direbut Miroslav Koubek yang berusia 74 tahun. Fenomena ini menunjukkan bahwa usia bukanlah halangan untuk berkompetisi di level tertinggi.
Dengan kemenangan ini, Meksiko dan Korea Selatan memimpin klasemen sementara grup masing-masing. Namun, perjalanan masih panjang. Pertanyaan besarnya: bisakah El Tri mempertahankan performa ini hingga fase gugur? Atau mampukah Taegeuk Warriors kembali mengejutkan dunia seperti yang mereka lakukan di Piala Dunia 2010? Semua akan terjawab dalam laga-laga berikutnya.



