Jerman Hantam Curaçao 7-1, Tanda Kebangkitan di Piala Dunia 2026?
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan telak 7-1 atas Curaçao menjadi modal awal Jerman di Grup A Piala Dunia 2026.
- Pelatih Julian Nagelsmann memanfaatkan variasi set-piece dan duet gelandang muda Pavlovic-Nmecha untuk membangun permainan.
- Penampilan Nathaniel Brown dan etos kerja Florian Wirtz menjadi sorotan di lini belakang dan tengah.
Jerman mengawali kampanye Piala Dunia 2026 dengan pesta gol 7-1 ke gawang Curaçao di Houston, Amerika Serikat, Senin (15/6) waktu setempat. Kemenangan ini tidak hanya mempertegas status Jerman sebagai salah satu kandidat juara, tetapi juga menunjukkan bahwa era baru di bawah Julian Nagelsmann mulai menunjukkan hasil nyata.
Pelatih berusia 37 tahun itu memiliki banyak alasan untuk optimistis. “Ada banyak hal positif,” ujarnya seusai pertandingan. Salah satu senjata andalan Jerman adalah skema bola mati. Gol kedua yang dicetak Nico Schlotterbeck menjadi bukti: setelah beberapa kali ancaman dari tiang jauh, Nathaniel Brown mengubah arah umpan ke tiang dekat, dan Schlotterbeck dengan timing sempurna menanduk bola masuk. Latihan intensif bersama pelatih set-piece Mads Buttgereit mulai membuahkan hasil.
Di lini tengah, duet Aleksandar Pavlovic dan Felix Nmecha menjadi fondasi baru. “Kami sangat cocok, baik di dalam maupun luar lapangan. Yang terbaik adalah bermain tiki-taka bersama,” kata Pavlovic. Keduanya menunjukkan chemistry menjanjikan, meski tantangan sesungguhnya akan datang saat menghadapi lawan yang lebih tangguh. Jika konsisten, pasangan ini bisa menjadi poros permainan Jerman untuk tahun-tahun mendatang.
Florian Wirtz, meski tidak mencetak gol, tampil brilian dengan assist untuk gol pembuka Nmecha. Namun yang paling menonjol adalah kontribusi defensifnya. Di akhir babak pertama, ia berlari cepat untuk merebut bola kembali di dekat kotak penalti sendiri setelah Curaçao melancarkan serangan balik. Semangat tim seperti ini akan krusial bagi Jerman, terutama mengingat beberapa celah di lini pertahanan pertama yang sempat terlihat.
Jamal Musiala kembali ke performa terbaiknya dengan dribel khas di ruang sempit dan mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Media Jerman sebelumnya ramai membicarakan dirinya, namun hal itu justru memacu semangatnya. Sementara itu, Nathaniel Brown, yang dikabarkan akan pindah ke Bayern Munich, tampil tenang dan membayar kepercayaan Nagelsmann dengan penampilan ofensif yang solid. “Luar biasa bisa mencetak gol di debut Piala Dunia. Keluarga saya di sini, ini tak terlupakan,” ujarnya kepada MagentaTV.
Bagi Indonesia, performa Jerman ini menjadi tontonan menarik karena Piala Dunia 2026 akan digelar di tiga negara, termasuk Amerika Serikat yang memiliki diaspora Indonesia cukup besar. Kehadiran pemain seperti Musiala dan Wirtz yang masih muda bisa menjadi inspirasi bagi pesepakbola Tanah Air yang bercita-cita tampil di panggung dunia. Selain itu, pendekatan Nagelsmann yang berani merotasi pemain dan mengandalkan set-piece bisa menjadi pelajaran bagi timnas Indonesia yang kerap kesulitan dalam situasi bola mati.
Pertanyaan besarnya, mampukah Jerman mempertahankan konsistensi ini saat menghadapi lawan-lawan berat seperti Brasil atau Argentina di fase gugur? Nagelsmann setidaknya telah memberikan sinyal bahwa timnya tidak hanya bergantung pada satu atau dua pemain bintang. Dengan kedalaman skuad dan semangat kolektif yang mulai terbentuk, Jerman layak diperhitungkan sebagai kuda hitam yang bisa merebut gelar keempat mereka.



