Rasis di Piala Dunia U-20: Warga Meksiko Dipecat Usai Hina Wajah Korea
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria Meksiko dipecat dari jabatan ketua asosiasi insinyur setelah videonya meniru mata sipit saat pertandingan Piala Dunia U-20 memicu kemarahan global.
- Konten kreator asal Korea Selatan, Yoon Su-jin, mengunggah momen tersebut yang langsung viral dengan 65.000 komentar dan 120.000 kali dibagikan.
- Kasus ini menjadi pengingat bahwa rasisme anti-Asia masih marak di ruang publik, termasuk di ajang olahraga internasional.

Seorang pria Meksiko kehilangan jabatan kepemimpinannya di sebuah organisasi profesi teknik setelah videonya melakukan gestur rasis terhadap warga Korea Selatan saat pertandingan Piala Dunia U-20 di Guadalajara menjadi viral. Ulises Fernando Bernal Miramontes, yang saat itu duduk di belakang seorang kreator konten asal Korea, Yoon Su-jin, tertangkap kamera menarik sudut matanya ke samping—tindakan yang dianggap menghina etnis Asia Timur—lalu tertawa seenaknya.
Insiden yang terjadi pada pertandingan antara Korea Selatan dan Republik Ceko, Kamis malam lalu, langsung memicu gelombang kecaman di media sosial. Video yang diunggah Yoon di Instagram dengan keterangan, "Kau bepergian ke seberang dunia untuk Piala Dunia… dan mengalami rasisme…" telah dikomentari lebih dari 65.000 kali dan dibagikan ulang setidaknya 120.000 kali. Banyak warganet, termasuk dari Meksiko sendiri, mengecam tindakan Bernal dan menyebutnya memalukan. "Mengerikan. Lalu dia tertawa seolah itu lelucon terbaik," tulis salah satu komentar.
Dampaknya tidak berhenti di dunia maya. Menurut laporan New York Post yang mengutip juru bicara Colegio de Ingenieros en Geomática y Topografía del Estado de Jalisco (CITGEJ), Bernal langsung dicopot dari jabatannya sebagai presiden organisasi tersebut. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab institusi atas perilaku anggotanya yang dinilai melanggar etika dan nilai-nilai organisasi.
Dalam pernyataan maaf yang dirilis pada hari Minggu, Bernal mengakui bahwa videonya telah menyebar luas dan "menimbulkan beragam reaksi". Ia menyatakan penyesalan mendalam atas apa yang terjadi dan mengaku telah merenungkan perbuatannya. "Sepanjang hidup pribadi dan profesional saya, saya selalu berusaha memperlakukan orang lain dengan hormat, dan saya akan terus bekerja agar tindakan saya mencerminkan nilai-nilai itu," tulisnya. Namun, ia tidak menyebut secara spesifik tindakannya sebagai rasis, melainkan lebih menyoroti konsekuensi yang ia terima.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa rasisme terhadap warga Asia Timur masih menjadi masalah global, bahkan di ajang olahraga yang seharusnya menjunjung sportivitas. Bagi Indonesia, yang kerap menjadi tuan rumah event internasional, insiden ini bisa menjadi pelajaran penting tentang perlunya edukasi antirasisme bagi masyarakat dan penegakan sanksi tegas terhadap pelaku. Di tengah meningkatnya interaksi antarbangsa, sikap saling menghormati menjadi kunci untuk mencegah terulangnya tindakan serupa di masa depan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah permintaan maaf dan pemecatan cukup untuk memberikan efek jera, ataukah diperlukan regulasi yang lebih ketat di level penyelenggara acara untuk mencegah tindakan rasis di tribun? Yang jelas, satu gestur tak pantas telah mengubah hidup seseorang dan membuka diskusi yang lebih luas tentang toleransi di era global.



