Piala Dunia 2026: Iraola Pantau Performa Wirtz, Isak, dan Diomande untuk Revitalisasi Liverpool
Baca dalam 60 detik
- Pelatih baru Liverpool, Andoni Iraola, memanfaatkan Piala Dunia 2026 untuk mengevaluasi pemainnya dan target transfer potensial.
- Florian Wirtz tampil impresif bersama Jerman, sementara Alexander Isak dan Yan Diomande menunjukkan performa yang menjanjikan.
- Iraola harus merevitalisasi skuad yang gagal mempertahankan gelar Premier League, dengan fokus pada posisi sayap kanan yang ditinggalkan Mohamed Salah.

Andoni Iraola, pelatih kepala baru Liverpool, tak menyia-nyiakan momentum Piala Dunia 2026. Di tengah hiruk-pikuk turnamen empat tahunan itu, ia menjadikan laga-laga hari keempat sebagai laboratorium taktik untuk memetakan potensi skuad yang akan dibentuknya musim depan. Bukan sekadar menonton, Iraola mengamati secara langsung performa para pemain yang sudah ada di Anfield serta calon rekrutan yang bisa mengembalikan kejayaan The Reds.
Musim lalu, Liverpool gagal mempertahankan gelar Premier League dengan performa yang mengecewakan. Kedatangan Iraola dari Bournemouth diharapkan menjadi titik balik. Dengan gaya bermain agresif dan kemampuannya mengorbitkan pemain muda, pelatih asal Spanyol itu dihadapkan pada tugas berat: merevitalisasi skuad yang kehilangan sosok kunci seperti Mohamed Salah. Piala Dunia menjadi panggung tepat untuk melihat apakah para pemainnya siap bangkit.
Salah satu sorotan utama adalah Florian Wirtz. Gelandang serang Jerman yang dibeli dengan rekor transfer Inggris senilai Β£116 juta musim panas lalu itu tampil inkonsisten bersama Liverpool. Namun, dalam kemenangan telak 7-1 Jerman atas Curacao, Wirtz menunjukkan kilasan kelas dunia. Bermain di sisi kiri, ia menciptakan peluang dan memberikan assist untuk gol pembuka Felix Nmecha. Mantan striker Inggris Chris Sutton, yang meliput pertandingan untuk BBC Radio 5 Live, menilai Wirtz tampak lebih rileks dan kreatif bersama tim nasional. βDia tajam dari sisi kiri, menusuk ke dalam, dan memberikan umpan-umpan cepat. Dia seperti pemain yang berbeda,β ujar Sutton. Iraola punya pekerjaan rumah menemukan posisi ideal bagi pemain berusia 23 tahun itu agar potensinya tersalurkan di Liverpool.
Di sisi lain, kapten Liverpool Virgil van Dijk tetap menjadi pilar pertahanan yang kokoh. Dalam laga Belanda kontra Jepang yang berakhir imbang 2-2, Van Dijk dinobatkan sebagai pemain terbaik. Ia mencetak gol via sundulan dan menjadi tembok yang sulit ditembus. Namun, performa Cody Gakpo masih mengkhawatirkan. Penyerang sayap Belanda itu kembali tampil monoton, terlalu sering memotong ke dalam dan mudah dibaca lawan. Iraola harus memutar otak untuk mengembalikan ketajaman Gakpo yang meredup musim lalu.
Kabar baik datang dari Alexander Isak. Striker Swedia yang dibeli dengan harga Β£125 juta dari Newcastle United musim lalu tampil gemilang saat Swedia membantai Tunisia 5-1. Isak mencetak gol dan assist, menunjukkan kebugaran serta kepercayaan diri yang sempat hilang akibat cedera. Dengan cedera Achilles yang menimpa Hugo Ekitike, Iraola sangat membutuhkan Isak dalam performa terbaiknya musim depan.
Sementara itu, untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Mohamed Salah, nama Yan Diomande mencuat. Pemain sayap RB Leipzig berusia 19 tahun itu tampil memukau saat Pantai Gading mengalahkan Ekuador 1-0. Diomande bermain di kedua sisi sayap, menciptakan lima peluang, dan kerap merepotkan bek lawan. Meski masih mentah, potensinya sangat cocok dengan rekam jejak Iraola yang sukses mengembangkan pemain muda seperti Junior Kroupi dan Rayan di Bournemouth. Liverpool, bersama Paris Saint-Germain, disebut-sebut sebagai destinasi utama Diomande.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti. Liverpool memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Keberhasilan Iraola membangkitkan kembali performa pemain seperti Wirtz, Isak, dan Diomande akan menentukan daya saing Liverpool di Premier League dan Eropa. Apakah Iraola mampu mengulang suksesnya di Bournemouth dan membawa Liverpool kembali ke puncak? Atau justru tekanan di Anfield akan menjadi tantangan terbesarnya? Piala Dunia 2026 baru awal dari perjalanan panjang.



