Henderson Bela Bellingham: Kritik Media Tak Sebanding dengan Kontribusinya di Timnas Inggris
Baca dalam 60 detik
- Jordan Henderson menilai kritik terhadap Jude Bellingham tidak adil dan menyebutnya sebagai 'X-factor' Inggris di Piala Dunia.
- Bellingham, yang baru berusia 22 tahun, telah mengoleksi 48 caps dan akan tampil di turnamen besar ketiganya.
- Henderson mengungkap sisi lain Bellingham di balik layar: membantu pemain muda seperti Rio Ngumoha dan menjadi panutan di ruang ganti.

Jordan Henderson, gelandang senior Timnas Inggris, angkat bicara membela Jude Bellingham di tengah derasnya kritik media terhadap performa pemain Real Madrid itu. Dalam sesi latihan di Kansas City, Henderson menegaskan bahwa Bellingham tetap menjadi aset paling berharga bagi skuad asuhan Thomas Tuchel, terutama menjelang laga perdana Piala Dunia melawan Kroasia.
Menurut Henderson, banyak pemberitaan yang beredar tidak mencerminkan kontribusi nyata Bellingham di dalam dan luar lapangan. “Saya sulit membaca apa yang ditulis media. Saya tahu betapa besarnya pengaruh dia di tim ini,” ujar pemain Brentford berusia 35 tahun itu. Bellingham, yang sempat mengaku dijadikan kambing hitam di kamp pelatihan, dinilai Henderson memiliki kualitas istimewa yang sulit ditemukan pada pemain lain.
Kritik terhadap Bellingham mencuat setelah beberapa penampilannya bersama Inggris dianggap kurang konsisten. Namun, Henderson menekankan bahwa pemain berusia 22 tahun itu telah membuktikan diri sebagai pemain big game. “Dia memberi kami X-factor. Dia punya momen-momen besar dalam kariernya,” tambah mantan kapten Liverpool tersebut.
Di balik sorotan media, Henderson mengungkap sisi lain Bellingham yang jarang terlihat publik. Saat pemain muda seperti Rio Ngumoha (17 tahun) mendapat caps perdana, Bellingham lah yang memberikan topi warisan dan menyampaikan pidato penyemangat di ruang ganti. “Mereka semua mencontoh dia. Dia membantu pemain baru, seperti yang ia lakukan pada Rio, Josh King, Alex Scott, dan Ethan Nwaneri. Tidak ada yang melihat itu,” kata Henderson.
Bagi Indonesia, dinamika internal Timnas Inggris ini menarik dicermati. Persaingan ketat di lini tengah Inggris—antara Bellingham dan Morgan Rogers—mengingatkan pada tantangan serupa di skuad Garuda, di mana pemain muda kerap menghadapi tekanan media dan ekspektasi tinggi. Kemampuan Bellingham mengelola kritik dan tetap menjadi panutan bisa menjadi pelajaran berharga bagi pesepakbola Indonesia yang mulai merambah kancah internasional.
Henderson menegaskan bahwa apa yang ditulis media seringkali tidak sepenuhnya benar. “Bagi kami, kami tahu apa yang bisa dia lakukan dan kami semua mencintainya di dalam kamp. Itu yang terpenting,” tutupnya. Dengan dukungan penuh dari rekan setim, Bellingham diharapkan mampu membuktikan kualitasnya saat Inggris menghadapi Kroasia, sekaligus menjawab keraguan publik. Akankah ia menjadi pembeda yang membawa Inggris melangkah jauh di Piala Dunia kali ini?



