Brito, Bek Legenda Timnas Brasil Juara Piala Dunia 1970, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Brito, bek tengah andalan Brasil saat merebut gelar Piala Dunia 1970, meninggal dunia di usia 86 tahun akibat komplikasi pneumonia.
- Ia menjadi anggota ketujuh skuad Mario Zagallo yang berpulang, menyusul nama-nama seperti Pelé dan Carlos Alberto.
- Kepergian Brito menyisakan kenangan akan era keemasan sepak bola Brasil yang dikenal dengan julukan 'Tim Cantik'.
Dunia sepak bola kembali berduka. Brito, bek tengah legendaris yang menjadi bagian dari skuad Brasil saat merebut gelar Piala Dunia ketiga mereka pada 1970, meninggal dunia pada usia 86 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif selama sepekan akibat komplikasi pneumonia.
Brito, yang memiliki nama lengkap Hércules de Brito Ruas, memulai karier internasionalnya bersama Tim Samba pada 1964. Dua tahun berselang, ia turut serta dalam Piala Dunia 1966 di Inggris, meski hanya tampil sekali saat menghadapi Portugal. Namun, puncak kariernya terjadi pada 1970 di Meksiko, ketika ia menjadi pilar tak tergantikan di lini belakang Brasil. Brito bermain penuh di setiap pertandingan, membantu tim yang dijuluki 'The Beautiful Team' itu menaklukkan Italia di final dengan skor 4-1.
Kepergian Brito menambah panjang daftar anggota skuad Mario Zagallo yang telah tiada. Ia menjadi pemain ketujuh yang berpulang, setelah Everaldo (1974), Fontana (1980), Felix (2012), Joel Camargo (2014), Carlos Alberto (2016), dan Pelé (2022). Dari 22 pemain yang membawa Brasil juara dunia 54 tahun lalu, kini hanya segelintir yang masih hidup.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia, era 1970-an adalah masa keemasan Brasil yang sering dikenang lewat tayangan ulang dan dokumenter. Gaya bermain menyerang yang atraktif, dipimpin Pelé di depan dan dikawal Brito di belakang, menjadi inspirasi bagi banyak generasi. Kepergian Brito seolah menutup lembaran sejarah yang semakin jauh, namun warisannya tetap hidup dalam memori sepak bola dunia.
Sementara itu, Brasil bersiap menghadapi tantangan baru. Tim Samba dijadwalkan memulai perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi Maroko di Stadion New York New Jersey pada Sabtu mendatang. Pertandingan itu akan menjadi ajang pembuktian bagi generasi baru Brasil untuk meneruskan tradisi kejayaan yang pernah dibangun oleh Brito dan kawan-kawan.
Dengan berpulangnya Brito, dunia kehilangan salah satu ikon sepak bola yang tak hanya piawai bertahan, tetapi juga menjadi bagian dari tim yang mengubah cara pandang terhadap sepak bola. Pertanyaannya, akankah Brasil mampu kembali menemukan 'keindahan' yang dulu pernah mereka tunjukkan?

