FIFA Tetap Bayar Penuh Wasit Somalia yang Ditolak Masuk AS untuk Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Wasit asal Somalia, Omar Artan, dideportasi dari AS karena dugaan keterkaitan dengan kelompok militan, meskipun memiliki visa dan dokumen lengkap.
- FIFA memastikan Artan tetap menerima seluruh honor turnamen, meski ia tidak dapat memimpin pertandingan Piala Dunia 2026.
- Artan bertekad tampil di Piala Dunia 2030, setelah mendapat dukungan dari FIFA dan undangan memimpin UEFA Super Cup.

FIFA memastikan tetap membayar penuh honor turnamen kepada wasit asal Somalia, Omar Artan, meskipun ia gagal memasuki Amerika Serikat untuk bertugas di Piala Dunia 2026. Keputusan ini diambil setelah Artan dideportasi dari Bandara Internasional Miami pada Senin lalu, usai menjalani interogasi selama 11 jam oleh otoritas imigrasi AS.
Artan, yang merupakan wasit FIFA sejak 2018, ditolak masuk karena dugaan "asosiasi dengan tersangka anggota organisasi teror". Seorang pejabat pemerintah AS menyebutkan bahwa Artan dianggap memiliki hubungan dengan kelompok militan Somalia, Al Shabab. Wasit berusia 34 tahun itu membantah tuduhan tersebut dan mengaku tidak mengetahui apa pun tentang organisasi itu. "Saya hanya seorang wasit yang berusaha mewujudkan mimpi terbesar saya, datang ke Piala Dunia," ujarnya.
Setelah dideportasi, Artan diterbangkan kembali ke Turki dan mendapat bantuan dari pejabat FIFA di Istanbul sebelum akhirnya pulang ke Mogadishu, ibu kota Somalia. Meskipun tidak dapat bertugas di Piala Dunia, sumber BBC Sport mengonfirmasi bahwa FIFA tetap berkomitmen membayar gajinya. Besaran honor wasit Piala Dunia baru diketahui setelah turnamen berakhir.
Kisah Artan menyoroti ketatnya kebijakan imigrasi AS yang berdampak pada partisipasi internasional. Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya persiapan administrasi dan potensi hambatan visa bagi atlet atau ofisial yang hendak bertanding di luar negeri. Meski tidak secara langsung terkait, insiden serupa pernah dialami oleh beberapa atlet Indonesia saat bertanding di AS, terutama terkait persyaratan visa yang rumit.
Artan sendiri telah menorehkan prestasi gemilang pada 2025. Ia menjadi wasit Somalia pertama yang memimpin final kompetisi antarklub Afrika, yaitu leg kedua final Liga Champions Afrika antara Pyramids FC dan Mamelodi Sundowns. Ia juga bertugas di Piala Dunia U-20 di Chile, memimpin tiga pertandingan termasuk perebutan tempat ketiga. Di akhir tahun, ia memimpin dua laga fase grup Piala Afrika, setelah sebelumnya juga bertugas di edisi 2024.
Setelah kembali ke tanah air, Artan disambut hangat dan mengucapkan terima kasih kepada "rakyat dan negaraku". Ia berjanji akan kembali dan memimpin pertandingan di Piala Dunia 2030. Dengan dukungan FIFA dan undangan untuk memimpin UEFA Super Cup, masa depan Artan di dunia perwasitan masih cerah. Namun, pertanyaan besar tetap mengemuka: akankah kebijakan imigrasi AS berubah sebelum Piala Dunia 2030 yang juga akan digelar di Amerika?



