De Bruyne Buka Suara: Gaya Bermain di Italia Jauh Berbeda dari Premier League
Baca dalam 60 detik
- Kevin De Bruyne mengaku harus beradaptasi dengan pendekatan bertahan yang lebih dalam di Serie A, berbeda dengan tempo tinggi Premier League.
- Gelandang Belgia itu baru pulih dari cedera hamstring yang membuatnya absen lebih dari empat bulan bersama Napoli.
- Pertemuan Belgia vs Mesir di Piala Dunia 2026 akan mempertemukan kembali De Bruyne dengan Mohamed Salah, rival lama dari Premier League.

Kevin De Bruyne, gelandang serang Napoli dan timnas Belgia, mengungkapkan bahwa transisinya dari Premier League ke Serie A membawa tantangan tersendiri. Dalam konferensi pers jelang laga Piala Dunia 2026 melawan Mesir, ia menilai gaya bermain di Italia sangat kontras dengan apa yang ia alami selama satu dekade bersama Manchester City.
De Bruyne bergabung dengan Napoli pada awal musim 2025-2026 setelah 10 tahun membela Manchester City. Di Inggris, ia mengoleksi enam gelar liga dan satu trofi Liga Champions. Namun, perpindahan ke Italia tidak berjalan mulus. Cedera hamstring yang diderita saat melawan Inter Milan pada akhir Oktober memaksanya absen lebih dari empat bulan, membatasi penampilannya menjadi hanya 18 laga di musim perdananya.
“Saya menghadapi gaya bermain yang sangat berbeda di Italia dibandingkan yang biasa saya alami di Inggris. Ada banyak hal yang bisa dipelajari, terutama cara bertahan di area dalam,” ujar De Bruyne, Jumat (14/6). Ia menambahkan bahwa adaptasi taktik menjadi kunci, terutama dalam menghadapi pertahanan rapat yang menjadi ciri khas Serie A.
Pertandingan Belgia versus Mesir di Piala Dunia 2026 menjadi panggung reuni dua bintang Premier League: De Bruyne dan Mohamed Salah. Keduanya kerap berduel selama satu dekade di Inggris. “Akan menyenangkan bertemu Mo lagi. Anak-anak kami bersekolah di tempat yang sama, jadi saya sesekali bertemu dengannya. Dia pria yang sangat baik,” kata De Bruyne. Ia juga menyebut rekan setimnya di Mesir, Omar Marmoush, yang pernah bermain di Eintracht Frankfurt.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, duel ini menarik karena memperlihatkan perbedaan filosofi sepak bola Eropa. Premier League dikenal dengan tempo tinggi dan transisi cepat, sementara Serie A mengedepankan taktik dan organisasi pertahanan. Adaptasi De Bruyne bisa menjadi pelajaran bagi pemain Asia yang ingin berkarier di Eropa, termasuk potensi pemain Indonesia yang merambah liga top.
De Bruyne mengaku kondisinya kini cukup baik setelah cedera panjang. “Sulit untuk mengatakan, tapi saya merasa cukup baik di awal musim dan saat kembali bermain,” ujarnya. Namun, ia tetap waspada terhadap tantangan fisik di turnamen internasional. Pertanyaan besarnya: akankah pengalamannya di Italia membuat De Bruyne lebih tangguh di Piala Dunia, atau justru cedera menghambat performa terbaiknya?



