Dari Kamp Pengungsi ke Panggung Dunia: Nestory Irankunda Cetak Sejarah untuk Australia
Baca dalam 60 detik
- Nestory Irankunda, pemain Watford berusia 20 tahun, menjadi pencetak gol termuda Australia di Piala Dunia saat mengalahkan Turki 2-0.
- Lahir di kamp pengungsi Tanzania, Irankunda memilih hengkang dari Bayern Munich ke Watford demi menit bermain dan mimpi tampil di Piala Dunia.
- Golnya menginspirasi harapan baru bagi diaspora dan pemain muda Indonesia yang bermimpi menembus panggung internasional.

Nestory Irankunda menorehkan namanya dalam lembaran sejarah sepak bola Australia. Pemain sayap Watford berusia 20 tahun itu menjadi pencetak gol termuda yang pernah dimiliki Socceroos di Piala Dunia, setelah membuka keunggulan dalam kemenangan 2-0 atas Turki di Vancouver. Namun, di balik gol tersebut terbentang kisah hidup yang jauh dari kata biasa: dari kamp pengungsi di Tanzania, menimba ilmu bersama Harry Kane di Bayern Munich, hingga akhirnya memilih meninggalkan raksasa Bundesliga itu demi menit bermain yang nyata.
Irankunda lahir pada 2006 di sebuah kamp pengungsi di Tanzania, tempat orang tuanya yang berasal dari Burundi mengungsi akibat perang saudara. Keluarganya kemudian pindah ke Australia saat ia masih kecil, dan di sanalah ia menemukan sepak bola. Setelah menonjol di akademi Adelaide United dan mencetak 16 gol serta delapan assist untuk tim senior, Bayern Munich merekrutnya pada 2024. Namun, di Jerman, ia tidak pernah mendapatkan kesempatan tampil di tim utama—hanya berlatih bersama para pemain top, termasuk striker Inggris Harry Kane.
Ketiadaan menit bermain itu mengancam mimpinya tampil di Piala Dunia. Irankunda sempat dipinjamkan ke Grasshopper di Swiss, lalu pada musim panas lalu ia mengambil keputusan sulit: meninggalkan Bayern dan bergabung dengan Watford di Championship dengan biaya transfer yang tidak diungkapkan. "Keputusan yang berat, tetapi tujuan terbesar saya adalah bermain di Piala Dunia," ujarnya kepada Sky Sports. "Piala Dunia 2026 sudah di depan mata, dan saya harus mendapatkan menit bermain. Saya tidak mendapatkannya di Bayern."
Keputusan itu terbukti tepat. Irankunda tampil dalam 42 pertandingan untuk Watford, mencetak empat gol dan lima assist, yang memastikan tempatnya di skuad Piala Dunia. Dalam laga melawan Turki, ia menunjukkan kecepatan dan kekuatan untuk menciptakan peluang, lalu menyelesaikannya dengan dingin. Mantan manajer Australia dan Tottenham, Ange Postecoglou, yang kini menjadi komentator, memuji aksinya: "Tidak peduli di level mana Anda bermain, kecepatan seperti itu luar biasa."
Gol tersebut juga menjadi momen emosional bagi Irankunda. Ia merayakannya dengan meniru ikon Australia, Tim Cahill, yang meninju tiang bendera sudut. "Timmy Cahill adalah inspirasi terbesar saya dalam sepak bola, bersama Lionel Messi. Menurut saya, dia adalah pemain terhebat Australia. Begitu saya mencetak gol, saya langsung berpikir untuk melakukan hal yang sama seperti dia," kata Irankunda usai pertandingan.
Bagi Indonesia, kisah Irankunda menjadi cermin perjuangan pemain diaspora dan pentingnya jalur pengembangan bakat yang jelas. Banyak pemain keturunan Indonesia di Eropa yang menghadapi dilema serupa: bermain di klub besar tanpa menit bermain, atau pindah ke klub yang lebih kecil demi jam terbang. Keberanian Irankunda meninggalkan Bayern Munich demi menit bermain di Watford menunjukkan bahwa ambisi tampil di Piala Dunia sering kali membutuhkan pengorbanan karir jangka pendek.
Postecoglou menambahkan, "Ini momen besar. Kadang di Piala Dunia, Anda hanya butuh beberapa pekan yang baik dan seluruh dunia Anda bisa berubah. Semoga ini menjadi awal yang baik baginya." Dengan usia yang masih 20 tahun, Irankunda memiliki potensi untuk menjadi bintang global—dan kisahnya baru saja dimulai.



