Piala Dunia 2026: Curaçao, Negara Terkecil yang Siap Kejutkan Jerman
Baca dalam 60 detik
- Curaçao menjadi negara terkecil yang lolos ke Piala Dunia, dengan catatan tak terkalahkan di 10 laga kualifikasi CONCACAF.
- Pelatih legendaris Dick Advocaat (78 tahun) memimpin tim yang mayoritas pemainnya berlaga di liga Eropa.
- Pertandingan pembuka melawan Jerman pada Minggu akan menjadi ujian sejati bagi ambisi Curaçao.

Pada Minggu (7 Juni 2026) pukul 19.00 CEST, Jerman akan memulai kampanye Piala Dunia 2026 mereka melawan Curaçao—negara kepulauan Karibia yang menjadi peserta termuda dan terkecil dalam sejarah turnamen. Meski di atas kertas Julian Nagelsmann dan skuadnya difavoritkan menang, Curaçao datang ke Amerika Utara bukan sekadar pelengkap.
Lolos ke putaran final adalah pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola Curaçao. Negara berpenduduk sekitar 160.000 jiwa ini menjadi negara terkecil yang pernah tampil di Piala Dunia, mengalahkan rekor Trinidad dan Tobago. Perjalanan mereka di kualifikasi CONCACAF sungguh impresif: tanpa kekalahan dalam sepuluh pertandingan, termasuk hasil imbang melawan Meksiko dan kemenangan atas Kosta Rika. Keberhasilan ini menempatkan Curaçao sebagai underdog yang patut diperhitungkan.
Mayoritas skuad Curaçao lahir dan besar di Belanda, namun memiliki garis keturunan yang menghubungkan mereka ke pulau tersebut. Hal ini memberi mereka keunggulan berupa pengalaman bermain di liga-liga Eropa. Nama-nama seperti Leandro dan Juninho Bacuna (keduanya bermain di klub Premier League dan Championship), serta mantan pemain Hoffenheim Joshua Brenet, menjadi tulang punggung tim. Selain itu, ada Jeremy Antonisse (FC Emmen) dan Liviano Comenencia (Jong PSV) yang turut memperkuat lini serang.
Di sisi bangku pelatih, Curaçao diperkuat oleh figur legendaris: Dick Advocaat. Pelatih asal Belanda berusia 78 tahun ini menjadi pelatih tertua dalam sejarah Piala Dunia, melampaui rekor Otto Rehhagel. Advocaat sempat mundur setelah memastikan tiket ke Amerika Serikat, namun kemudian kembali memimpin tim. Dalam konferensi pers jelang laga, ia memuji Jerman sebagai salah satu favorit juara bersama Spanyol, Prancis, dan Belanda. “Jerman jelas favorit di grup ini. Mereka masih negara sepak bola besar,” ujarnya. Namun, Advocaat menegaskan timnya tidak gentar: “Memulai melawan Jerman sangat fantastis. Kami akan segera tahu di mana posisi kami.”
Persiapan Curaçao berjalan mulus. Sebelum berangkat ke Amerika Serikat, mereka mengalahkan tetangga Aruba 4-0 dalam laga persahabatan. Meski babak pertama berakhir tanpa gol, empat gol di babak kedua—masing-masing dari Brenet, Antonisse, Comenencia, dan Juninho Bacuna—memberi hasil meyakinkan. Kemenangan ini menjadi suntikan moral setelah sebelumnya mereka kalah 1-4 dari Skotlandia. Advocaat sempat mengistirahatkan pemain kunci di awal laga, namun harus memainkan mereka untuk menghindari kejutan dari tim peringkat 190 FIFA.
Bagi Indonesia, perjalanan Curaçao bisa menjadi inspirasi. Negara kecil dengan sumber daya terbatas mampu bersaing di level tertinggi sepak bola dunia melalui perencanaan matang dan memanfaatkan diaspora. Keberhasilan mereka lolos ke Piala Dunia juga membuka peluang bagi pemain keturunan Indonesia di Belanda untuk mengikuti jejak serupa, mengingat banyak pemain diaspora Indonesia yang bermain di Eropa. Pertandingan melawan Jerman akan menjadi ujian nyata apakah Curaçao mampu menyaingi raksasa sepak bola, atau sekadar menjadi batu loncatan bagi Der Panzer.
Dengan segala keterbatasan, Curaçao telah membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya milik negara besar. Pertanyaan yang tersisa: mampukah mereka mencuri poin dari Jerman di laga perdana? Atau justru pengalaman berharga ini akan menjadi modal untuk kejutan di pertandingan berikutnya?


