Duo Littler-Humphries Patahkan Kutukan, Inggris Rebut Piala Dunia Darts Keenam
Baca dalam 60 detik
- Luke Littler dan Luke Humphries sukses membawa Inggris menjuarai Piala Dunia Darts 2025 setelah mengalahkan Belanda 10-5 di Frankfurt.
- Kemenangan ini menebus kegagalan mereka tahun lalu saat tersingkir dini oleh tuan rumah Jerman, sekaligus memperpanjang rekor Inggris sebagai juara terbanyak.
- Pertandingan sengit melawan Wales di perempat final nyaris membuat langkah Inggris terhenti, namun kebangkitan di babak kedua menyelamatkan mereka.

Inggris kembali menegaskan dominasinya di pentas Piala Dunia Darts setelah Luke Littler dan Luke Humphries sukses mengalahkan favorit kedua Belanda dengan skor 10-5 di Frankfurt, Minggu (16/6). Kemenangan ini sekaligus mematahkan kutukan kegagalan tahun lalu saat mereka tersingkir secara mengejutkan di babak kedua oleh tuan rumah Jerman.
Pasangan unggulan pertama itu harus melewati jalan terjal sebelum mencapai final. Di perempat final, mereka nyaris tersingkir setelah tertinggal 0-4 dari Wales, bahkan sempat tertinggal 2-5 saat jeda. Namun, kebangkitan dramatis di babak kedua—dengan Humphries menyamakan kedudukan dan Littler menutup dengan double tops—membalikkan keadaan. Wales sempat memaksakan leg penentu, tetapi Nick Kenny gagal memanfaatkan peluang, dan Littler mengamankan kemenangan dengan double two.
Di semifinal, Inggris tampil lebih percaya diri melawan Skotlandia yang diperkuat Gary Anderson dan Cameron Menzies. Unggulan keempat itu sebelumnya tampil perkasa dengan mengalahkan Norwegia 8-0 dan Republik Irlandia 8-5. Namun, Inggris unggul 5-2 saat jeda dan menutup pertandingan dengan 12-darter di leg kesepuluh. Littler hanya membutuhkan satu dart untuk menuntaskan kemenangan lewat double 20.
Final melawan Belanda—yang diperkuat Michael van Gerwen dan Gian van Veen—berlangsung ketat di awal. Kedua tim saling jaga lemparan hingga Littler mematahkan pertahanan lawan dengan double 10 menjelang jeda pertama. Setelah jeda, Humphries menambah keunggulan dengan checkout 87, membuat Inggris unggul tiga leg. Van Gerwen sempat menunjukkan permainan gemilang dengan skor 174, tetapi gagal dalam checkout delapan, yang dimanfaatkan Inggris untuk mematahkan perlawanan Belanda. Humphries akhirnya memastikan kemenangan dengan kombinasi sembilan, 16, dan double delapan.
“Saya sangat senang—ini penampilan terbaik kami sepanjang turnamen,” ujar Littler kepada Sky Sports. “Kami tidak bisa melakukannya setiap pertandingan, ini sulit. Tahun lalu kami kalah karena menghadapi tim yang lebih baik. Tahun ini kami harus menang bersama, tidak sendiri.” Humphries menambahkan, “Michael van Gerwen luar biasa malam ini. Kami tahu harus memanfaatkan peluang. Jika memberi Belanda sedikit harapan, mereka akan merebutnya.”
Bagi penggemar darts di Indonesia, kemenangan ini menegaskan bahwa Inggris tetap menjadi kekuatan dominan di cabang olahraga yang semakin populer secara global. Meski belum ada pemain Indonesia yang berlaga di level elite, turnamen seperti Piala Dunia Darts kerap ditayangkan di platform streaming dan menarik minat komunitas darts lokal yang terus bertumbuh. Dominasi Inggris juga menjadi tolok ukur bagi negara-negara berkembang untuk mengejar ketertinggalan, terutama dalam hal pembinaan usia muda seperti yang dilakukan Littler.
Ke depan, tantangan bagi Inggris adalah mempertahankan konsistensi di turnamen beregu, sementara Belanda dan Skotlandia diprediksi akan kembali menjadi pesaing utama. Apakah Littler dan Humphries mampu mengulang sukses ini tahun depan, atau justru akan muncul pasangan baru yang menggusur mereka?



