Swedia di Piala Dunia 2026: Duet Mahal Isak-Gyokeres di Tangan Graham Potter
Baca dalam 60 detik
- Swedia lolos ke Piala Dunia 2026 melalui play-off berkat gol-gol Viktor Gyokeres, setelah gagal menang di enam laga kualifikasi.
- Pelatih Graham Potter, yang dipecat West Ham, kini ditantang meracik formasi ideal untuk memaksimalkan duet Alexander Isak dan Gyokeres.
- Timnas Swedia memiliki lini depan tajam namun rentan di posisi kiper dan kedalaman skuad, menjadikannya kuda hitam yang menarik.

Graham Potter harus segera memecahkan teka-teki taktik terbesarnya: bagaimana memainkan dua striker bintang senilai total lebih dari £200 juta—Alexander Isak dan Viktor Gyokeres—secara bersamaan di Piala Dunia 2026. Tantangan ini muncul setelah Swedia secara dramatis merebut tiket ke Amerika Serikat melalui play-off, mengakhiri periode kelam tanpa kemenangan di babak kualifikasi.
Swedia nyaris gagal total di kualifikasi. Dalam enam pertandingan Grup, mereka tidak sekalipun meraih kemenangan. Namun, keberuntungan berpihak setelah mereka memuncaki Grup Nations League 2024, yang membuka jalan menuju play-off. Di sanalah Potter, yang baru 23 hari dipecat West Ham, mengambil alih dan dalam empat laga mampu membawa Swedia mengalahkan Ukraina dan Polandia. Kemenangan 2-1 atas Polandia di partai penentu menjadi momen kebangkitan yang disebut Potter sebagai "fajar setelah malam tergelap".
Kini, Potter dihadapkan pada kemewahan sekaligus dilema: memiliki dua penyerang kelas dunia. Isak, yang dibeli Liverpool seharga £125 juta, melewatkan sebagian besar musim karena cedera. Gyokeres, top skor Arsenal di Premier League, justru menjadi pahlawan play-off dengan empat gol dalam dua laga. Pertanyaan besarnya adalah apakah Potter akan mempertahankan formasi 3-4-2-1 yang pragmatis atau beralih ke 3-4-1-2 untuk menampung keduanya. Absennya Dejan Kulusevski karena cedera semakin mempersempit opsi kreatif di lini tengah.
Potter bukan nama asing di Swedia. Sebelum kariernya hancur di Chelsea dan West Ham, ia membawa Ostersund dari divisi empat ke kasta tertinggi, juara Piala Swedia, dan lolos ke Liga Europa. Reputasinya di sana tetap gemilang, dan ia menjadi manajer Inggris kedua yang menukangi Swedia setelah George Raynor—yang membawa mereka ke final Piala Dunia 1958. Namun, tantangan kali ini jauh lebih berat: membangun kembali kepercayaan diri skuad yang porak-poranda di bawah Jon Dahl Tomasson, dengan pertahanan rapuh dan taktik yang terlalu berisiko.
Di sisi lain, Swedia memiliki generasi muda menjanjikan. Bek sayap Gabriel Gudmundsson dan Daniel Svensson—yang disebut pelatih Borussia Dortmund Niko Kovac sebagai "Duracell Bunny"—tampil impresif di klub masing-masing. Gelandang muda Yasin Ayari dan Lucas Bergvall juga mulai menonjol. Namun, kelemahan jelas terlihat di posisi kiper yang belum ada figur tetap, serta minimnya kualitas pemain cadangan di luar 11 utama. Anthony Elanga, misalnya, menjalani musim buruk di Newcastle.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Swedia menawarkan pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan adaptasi. Potter, yang sempat dianggap gagal di Inggris, justru menemukan pelipur lara di Swedia. Ini mengingatkan bahwa dalam sepak bola, kesempatan kedua bisa datang dari arah tak terduga. Selain itu, duel Isak vs Gyokeres bisa menjadi tontotan menarik, mengingat keduanya sering dikaitkan dengan klub-klub besar Eropa yang juga diikuti penggemar Indonesia.
Swedia tergabung di Grup F bersama Brasil, Kamerun, dan Selandia Baru. Meski secara historis mereka pernah finis ketiga saat Piala Dunia terakhir di AS pada 1994, mengulang prestasi itu tampaknya sulit. Namun, dengan Potter di kursi pelatih dan lini depan mematikan, siapa yang berani mencoret mereka sepenuhnya? Pertanyaan terbesarnya: bisakah Potter menyulap kelemahan menjadi kekuatan, atau justru duet mahal Isak-Gyokeres akan menjadi bom waktu?

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8071310/original/076160100_1780916398-20260608IQ_Preskon_Pelatih_Baru_Persija-14.jpg)