Ekuador Tak Lagi Jadi Pemula di Piala Dunia: Kiper Senior Galindez Bicara Pengalaman dan Ambisi
Baca dalam 60 detik
- Kiper veteran Hernan Galindez menegaskan skuad Ekuador kini jauh lebih matang secara mental dan taktik menjelang Piala Dunia 2026, berbekal pengalaman dari Qatar 2022 dan performa impresif di kualifikasi.
- Galindez mengandalkan rutinitas psikologis khusus untuk menjaga fokus di lapangan, hasil kerja sama dengan psikolog pribadi yang membantunya mengatasi tekanan.
- Ekuador tergabung di grup berat bersama Jerman, Pantai Gading, dan Curacao, namun optimistis mampu bersaing berkat pertahanan solid yang hanya kebobolan lima gol dalam 18 laga kualifikasi.
Ekuador tidak lagi menjadi tim yang canggung di panggung Piala Dunia. Kiper senior Hernan Galindez, yang akan tampil di turnamen keduanya pada usia 39 tahun, menegaskan bahwa skuad La Tri kini memiliki pengalaman dan kematangan yang jauh berbeda dibanding saat debut mereka di Qatar 2022. Dengan fondasi pertahanan yang kokoh dan semangat kolektif yang kuat, Ekuador siap menjadi kejutan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tahun ini.
Galindez, yang kini bermain untuk Huracan di Argentina, mengakui bahwa perjalanan panjang bersama di kualifikasi Amerika Selatan telah membentuk karakter tim. Ekuador finis sebagai runner-up dengan hanya kebobolan lima gol dalam 18 pertandingan โ catatan terbaik di antara semua peserta kualifikasi. โKami bukan lagi pemula,โ ujar Galindez dalam wawancara eksklusif dengan FIFA. โSaya jauh lebih dewasa, dan saya telah bekerja keras pada kekuatan mental. Saya yakin saya juga menjadi kiper yang lebih baik.โ
Kiper kelahiran Rosario, Argentina, ini memiliki rutinitas unik untuk menjaga konsentrasi. Saat pertandingan berlangsung tenang, ia meluangkan waktu mencari keluarganya di tribun atau berbincang dengan petugas bola. Untuk memulihkan fokus, ia membaca papan skor, mengecek waktu, dan menyebutkan tanggal, kota, negara, serta nama lawan dengan lantang โ sebuah latihan mental yang dirancang bersama psikolognya untuk meredakan ketegangan.
Galindez, yang memperoleh kewarganegaraan Ekuador pada 2019, mengingat masa kecilnya di Rosario saat berhadapan dengan Lionel Messi. โSaya mulai bermain kiper di Alianza Sport saat berusia enam tahun. Kami juara dan saya hanya kebobolan satu gol sepanjang kompetisi. Gol itu dicetak Leo โ dia melewati lima pemain saya dan menaklukkan saya dengan bola menempel di kakinya. Dia berlari pergi tanpa selebrasi, seolah tidak terjadi apa-apa. Lucu bagaimana hidup berputar penuh,โ kenangnya.
Menghadapi Piala Dunia 2026, Galindez tidak meremehkan lawan-lawannya di Grup D. โPantai Gading adalah tim fisik dengan pemain-pemain yang bermain di liga top Prancis dan Inggris. Curacao akan tampil di Piala Dunia pertama mereka, membawa mimpi seluruh bangsa. Jerman tentu tidak perlu diperkenalkan. Kami harus mengambil satu pertandingan demi satu pertandingan, ingat bahwa tiga poin dipertaruhkan di setiap laga, dan jangan terjebak dalam perhitungan,โ tegasnya.
Kekuatan utama Ekuador, menurut Galindez, terletak pada komitmen tanpa bola. โPenyerang kami adalah lini pertahanan pertama. Kami menekan tinggi untuk merebut bola sejauh mungkin dari gawang. Itu sebabnya lawan jarang menciptakan peluang. Kami juga memiliki bek-bek top seperti Piero Hincapie, Willian Pacho, Pervis Estupinan, dan lainnya.โ
Kebersamaan tim menjadi nilai tambah. Banyak pemain telah saling kenal sejak level junior. โKami tahu nama anak-anak istri rekan setim, mimpi-mimpi mereka. Ada aturan emas: tidak boleh ada yang cemberut. Ini bukan soal menit bermain individu, tapi bagaimana Ekuador tampil baik,โ ujar Galindez.
Bagi Indonesia, perjalanan Ekuador bisa menjadi inspirasi tentang bagaimana membangun tim nasional yang kompetitif melalui regenerasi bertahap dan investasi pada pemain muda yang bermain di liga Eropa. Keberhasilan Ekuador lolos dengan pertahanan terbaik menunjukkan bahwa disiplin taktik dan mentalitas kolektif dapat mengimbangi keterbatasan sumber daya.
Galindez menutup dengan optimisme: โKami ingin terus menunjukkan perkembangan kami. Tidak ada tim yang tak terkalahkan, tapi juga tidak ada lawan yang remeh. Kami percaya pada kemampuan sendiri.โ Pertanyaannya, akankah pengalaman dan soliditas Ekuador cukup untuk menembus babak gugur dan menulis cerita baru di panggung sepak bola dunia?



