Capello Dukung Brasil di Piala Dunia 2026, Tapi Luka 'Gol Hantu' Lampard Belum Sembuh
Baca dalam 60 detik
- Fabio Capello mengaku akan mendukung Brasil asuhan Carlo Ancelotti pada Piala Dunia 2026, sementara Italia kembali absen untuk ketiga kalinya berturut-turut.
- Mantan pelatih Inggris itu masih belum bisa melupakan gol kontroversial Frank Lampard yang tidak disahkan pada Piala Dunia 2010, yang menurutnya mengubah arah turnamen.
- Capello menilai Prancis dan Spanyol sebagai favorit juara, serta memberikan pandangan tentang kebangkitan Italia yang perlu fokus pada pengembangan teknik dan intensitas permainan.

Fabio Capello, mantan pelatih tim nasional Italia dan Inggris, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Brasil yang akan diasuh Carlo Ancelotti pada Piala Dunia 2026. Namun, di balik antusiasmenya, kenangan pahit tentang gol Frank Lampard yang tidak diakui pada 2010 masih membekas. โSaya masih belum bisa mencernanya,โ ujar Capello dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, mengacu pada momen kontroversial yang mengubah laga Inggris melawan Jerman di babak 16 besar.
Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, namun Italia kembali absen untuk ketiga kalinya secara beruntun. Capello, yang kini menjadi komentator, mengaku akan mendukung Brasil karena kekagumannya pada Ancelotti. โDia karakter luar biasa, cepat beradaptasi di lingkungan mana pun. Di Brasil, itu tidak mudah,โ katanya. Meski begitu, Capello menilai Prancis dan Spanyol sebagai tim terkuat, dengan kualitas pemain yang bisa menentukan kapan saja.
Selain Brasil, Capello juga menyoroti dua pelatih Italia lainnya di Piala Dunia: Vincenzo Montella bersama Turki dan Fabio Cannavaro bersama Uzbekistan. Menurutnya, Turki bisa menjadi kejutan berkat permainan penuh kepribadian dan keyakinan. Ia memuji peran Hakan Calhanoglu dan Kenan Yildiz sebagai pembeda di lapangan. Sementara itu, Capello penasaran dengan performa Inggris dan Jerman, terutama apakah Inggris masih memiliki energi fisik dan mental setelah turnamen sebelumnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, absennya Italia menjadi pengingat bahwa regenerasi pemain dan pelatih adalah kunci. Capello menekankan bahwa Italia harus kembali ke akar: pertahanan kokoh yang dulu menjadi ciri khas. โKami lemah di pertahanan, padahal sejarah kami dibangun dari sana,โ katanya. Ia juga mengkritik pembinaan usia muda yang terlalu fokus pada taktik, bukan teknik. โBanyak pemain masih mengoper bola ke samping atau mundur. Mereka harus mencontoh Como milik Fabregas yang selalu maju,โ tambahnya.
Capello, yang melatih Inggris pada 2010, masih trauma dengan gol Lampard yang tidak disahkan. Saat itu kedudukan 2-1 untuk Jerman, dan gol Lampard jelas melewati garis gawang namun tidak dianggap karena belum ada teknologi. โKami akan bangkit dari ketertinggalan dua gol, dan kami sedang membaik. Tidak tahu sampai mana kami bisa melangkah,โ kenangnya. Kejadian ini mendorong FIFA mengadopsi goal-line technology, yang kini menjadi standar.
Italia, yang baru menunjuk Silvio Baldini sebagai pelatih interim untuk laga melawan Luksemburg dan Yunani, dinilai Capello memiliki potensi di lini depan dan tengah, namun rapuh di belakang. โSaya akan mencari bek Italia yang kuat,โ ujarnya. Pertanyaan besarnya: mampukah Italia kembali ke panggung dunia dalam waktu dekat? Capello optimistis jika ada program jangka panjang yang fokus pada teknik dan intensitas permainan vertikal.



