Arsenal Siapkan Rp2 Triliun untuk Tonali: Nasib Lewis-Skelly Terancam?
Baca dalam 60 detik
- Arsenal dilaporkan bersedia membayar 100 juta poundsterling untuk merekrut gelandang Newcastle, Sandro Tonali, pada bursa musim panas mendatang.
- Kedatangan Tonali berpotensi menggeser posisi Myles Lewis-Skelly, yang baru saja menembus tim utama dan tampil gemilang di final Liga Champions.
- Kebijakan finansial klub mengharuskan penjualan pemain academy seperti Lewis-Skelly untuk mendanai pembelian mahal, namun performanya kini membuatnya sulit dilepas.

Arsenal dikabarkan siap menggelontorkan dana hingga 100 juta poundsterling atau setara Rp2 triliun untuk memboyong gelandang Newcastle United, Sandro Tonali, pada bursa transfer musim panas mendatang. Langkah ini langsung memicu spekulasi mengenai masa depan gelandang muda Arsenal, Myles Lewis-Skelly, yang baru saja menikmati musim terobosan bersama The Gunners.
Menurut laporan dari media Italia, tiga klub raksasa Premier League—Arsenal, Manchester United, dan Manchester City—telah menyatakan kesediaan untuk memenuhi banderol selangit yang dipasang Newcastle. The Magpies sendiri tidak terlalu berniat melepas pemain asal Italia tersebut, apalagi setelah mereka kehilangan Anthony Gordon yang hengkang ke Barcelona. Namun, godaan dana segar sebesar itu bisa mengubah posisi mereka.
Ketertarikan Arsenal pada Tonali sebenarnya bukan hal baru. Pada hari terakhir bursa transfer musim dingin lalu, sempat beredar kabar bahwa pihak klub sudah menjalin komunikasi dengan kubu pemain. Namun, negosiasi tidak berlanjut karena waktu yang sempit. Kini, minat itu kembali mengemuka di tengah kebutuhan Arsenal untuk memperkuat lini tengah setelah performa Martin Zubimendi mulai menurun akibat kelelahan.
Zubimendi, yang menjadi andalan di awal musim, harus menjalani menit bermain terbanyak kedua setelah Declan Rice. Kondisi ini membuat Mikel Arteta memutar otak dan akhirnya memberikan kesempatan kepada Lewis-Skelly. Pemuda 19 tahun itu tampil mengejutkan saat dimainkan sebagai gelandang melawan Fulham dan sukses membawa Arsenal menang 3-0. Sejak saat itu, ia menjadi langganan tim utama dan bahkan dipercaya menjadi starter di final Liga Champions.
Kebangkitan Lewis-Skelly menjadi cerita sukses yang menarik. Ia dikenal sebagai salah satu pemain paling tahan terhadap tekanan di Premier League, meski kontribusi gol dan assistnya tidak terlalu menonjol. Namun, kedatangan pemain sekaliber Tonali—yang oleh jurnalis Newcastle, Joel Bland, disebut sebagai "salah satu gelandang terbaik di Eropa"—dapat mengancam posisinya. Seperti kata pepatah, tidak mungkin klub mengeluarkan 100 juta poundsterling hanya untuk duduk di bangku cadangan.
Jika Tonali bergabung, Arteta bisa menggeser Declan Rice ke peran yang lebih ofensif sebagai gelandang box-to-box, posisi yang selama ini tidak bisa diisi maksimal karena Rice harus bermain lebih dalam bersama Lewis-Skelly. Tonali dinilai memiliki kemampuan progresi bola yang lebih baik dibanding Zubimendi, yang kerap dikritik karena kurang mampu mengalirkan permainan ke depan.
Di sisi lain, Arsenal juga harus mempertimbangkan kondisi keuangan. Untuk bisa belanja besar, mereka perlu menjual pemain. Nama-nama seperti Leandro Trossard, Gabriel Martinelli, dan Ethan Nwaneri disebut-sebut bisa dilepas. Keuntungan menjual pemain akademi seperti Lewis-Skelly atau Nwaneri adalah mereka murni memberikan keuntungan bersih bagi klub karena tidak ada biaya transfer awal. Namun, setelah performa gemilangnya, Lewis-Skelly kini terlihat tidak tersentuh untuk dijual.
Keputusan Arsenal di bursa transfer nanti akan menjadi ujian bagi arah kebijakan klub: apakah mereka akan mempertahankan binaan sendiri yang sedang naik daun, atau memilih mendatangkan bintang mahal demi mengejar gelar? Bagi penggemar sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik untuk diikuti karena menunjukkan bagaimana klub-klub Eropa menyeimbangkan antara ambisi olahraga dan realitas finansial—sebuah dilema yang juga akrab di kancah sepak bola nasional.



