Jerman Menatap Piala Dunia 2026: Antara Warisan Emas dan Transisi yang Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Timnas Jerman akan tampil di Piala Dunia ke-21 kalinya pada 2026, namun dua edisi terakhir berakhir di fase grup.
- Di bawah pelatih termuda dalam sejarah, Julian Nagelsmann, Jerman mulai menunjukkan konsistensi setelah kualifikasi yang sempat terhambat cedera pemain inti.
- Dengan rekor empat gelar juara dan sejumlah momen ikonik, Jerman tetap menjadi ancaman serius meski masih dalam proses peremajaan skuad.
Jerman akan mengikuti Piala Dunia 2026 di Amerika Utara sebagai salah satu peserta dengan tradisi paling gemilang, namun dua turnamen terakhir justru menjadi pengingat bahwa kejayaan masa lalu tak menjamin kesuksesan masa kini. Untuk pertama kalinya sejak 1938, Der Panzer gagal melaju melewati babak penyisihan grup pada 2018 dan 2022—sebuah catatan yang ingin segera mereka hapus di bawah arahan pelatih termuda dalam sejarah tim, Julian Nagelsmann.
Nagelsmann, yang baru berusia 38 tahun, mengambil alih kursi pelatih pada September 2023 setelah Hansi Flick dipecat. Ia awalnya hanya dikontrak hingga Piala Eropa 2024, tetapi performa impresif di turnamen kandang membuatnya mendapat perpanjangan kontrak hingga 2028. Gaya bermainnya yang mengedepankan pressing agresif namun tetap terkontrol berhasil mengembalikan soliditas pertahanan Jerman, meski transisi cepat masih menjadi ciri khas permainan mereka.
Perjalanan menuju Piala Dunia 2026 tidak mulus. Jerman harus melalui babak kualifikasi dengan lima kemenangan dari enam pertandingan, namun sempat terguncang oleh kekalahan 2-0 dari Slovakia di laga pembuka. Mereka bangkit dan menutup kualifikasi dengan kemenangan telak 6-0 atas lawan yang sama. Masalah cedera menghantui skuad: Jamal Musiala, Kai Havertz, Antonio Rüdiger, dan kiper utama Marc-André ter Stegen absen dalam sebagian besar atau seluruh kampanye kualifikasi.
Manuel Neuer, kiper veteran yang sempat pensiun dari tim nasional setelah Piala Eropa 2024, dipanggil kembali dan akan menjadi pilihan utama untuk penampilan kelimanya di Piala Dunia. Bersamanya, nama-nama seperti Joshua Kimmich, Florian Wirtz, dan Nico Schlotterbeck menjadi tulang punggung tim yang tengah bertransisi.
Sejarah Jerman di Piala Dunia dipenuhi momen dramatis. “Keajaiban Bern” pada 1954 menjadi kisah klasik: tim yang kalah 8-3 dari Hongaria di fase grup, kemudian bangkit dan menang 3-2 di final. Lalu ada “Malam Sevilla” 1982 ketika Jerman Barat tertinggal 3-1 dari Prancis di perpanjangan waktu, lalu menyamakan kedudukan dan menang adu penalti. Kemenangan 7-1 atas Brasil di semi-final 2014 juga menjadi salah satu pertandingan paling berkesan dalam sejarah turnamen.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, Jerman selalu menjadi tim yang menarik untuk diikuti. Gaya bermain disiplin dan efisien ala Jerman kerap menjadi bahan perbandingan dengan tim-tim Asia, termasuk Indonesia yang tengah membangun fondasi sepak bola modern. Kegagalan Jerman di dua Piala Dunia terakhir juga menjadi pelajaran bahwa regenerasi dan adaptasi taktik adalah kunci—sebuah pesan yang relevan bagi perkembangan sepak bola nasional.
Dengan skuad yang masih dalam masa transisi dan persaingan di Grup E yang belum diketahui lawan pastinya, Jerman tetap dianggap sebagai kuda hitam. Namun, jika Nagelsmann mampu memaksimalkan potensi pemain mudanya dan mengembalikan mental juara, bukan tidak mungkin Jerman akan kembali bersaing di babak akhir. Pertanyaannya, mampukah mereka mengulang kejayaan 2014, atau justru kembali terpuruk seperti di Rusia dan Qatar?


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7848169/original/072831600_1780670747-20260605AA_Timnas_Indonesia_vs_Oman-02.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7965770/original/077615200_1780802287-pelatih_mozambik.jpg)