Ebola Bayangi Langkah DR Congo di Piala Dunia 2026, Laga Uji Coba Digelar Tanpa Penonton
Baca dalam 60 detik
- DR Congo menggelar laga uji coba melawan Chile di balik pintu tertutup di Prancis akibat kekhawatiran penyebaran Ebola dari negara Afrika tersebut.
- Pemerintah AS mewajibkan skuad dan ofisial DR Congo menjalani karantina 21 hari di luar negeri sebelum diizinkan masuk ke wilayahnya.
- Wabah virus Bundibugyo yang belum tersedia vaksinnya menjadi ancaman serius bagi partisipasi DR Congo di Piala Dunia 2026.

Kekhawatiran akan penyebaran virus Ebola memaksa Federasi Sepak Bola DR Congo menggelar laga uji coba terakhir menjelang Piala Dunia 2026 melawan Chile secara tertutup di kota Orleans, Prancis, Selasa (16.00 BST). Keputusan ini diambil setelah rencana awal menggelar pertandingan di Cadiz, Spanyol, gagal akibat larangan dari wali kota setempat yang menilai laga tersebut berisiko tinggi sebagai "tindakan pencegahan" terhadap wabah yang tengah melanda wilayah timur DR Congo.
DR Congo lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974, saat masih bernama Zaire. Kala itu, mereka tersingkir di fase grup setelah kalah dari Skotlandia, Brasil, dan Yugoslavia. Kini, tim asuhan Sébastien Desabre dihadapkan pada tantangan ganda: persaingan di Grup K yang berat—bersama Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan—serta ancaman kesehatan yang membayangi perjalanan mereka ke Amerika Serikat, tuan rumah turnamen.
Pemerintah AS menerapkan protokol ketat bagi seluruh anggota skuad dan ofisial DR Congo. Mereka diwajibkan menjalani masa karantina 21 hari di luar wilayah DR Congo dan dinyatakan bebas gejala sebelum diizinkan masuk ke Amerika Serikat. BBC Sport melaporkan bahwa tidak ada pemain DR Congo yang bermain di klub luar negeri—termasuk lima pemain yang berkarier di Inggris seperti Yoane Wissa (Newcastle)—yang baru-baru ini mengunjungi tanah air mereka. Namun, sebagian staf pendukung dan penggemar yang datang langsung dari DR Congo menjadi perhatian khusus otoritas kesehatan.
Tim DR Congo saat ini tengah mematangkan persiapan di Marbella, Spanyol, setelah menjalani pemusatan latihan selama sepuluh hari di Belgia yang diakhiri dengan hasil imbang 0-0 melawan Denmark. Rencananya, mereka akan bermarkas di Houston, Texas, selama turnamen dan memulai kampanye Grup K melawan Portugal pada 17 Juni. Laga berikutnya akan digelar di Guadalajara, Meksiko, melawan Kolombia, sebelum kembali ke AS untuk menghadapi Uzbekistan di Atlanta.
Konteks wabah ini menjadi perhatian khusus bagi Indonesia, yang memiliki hubungan bilateral erat dengan DR Congo di forum multilateral seperti Gerakan Non-Blok. Meski tidak ada penerbangan langsung antara kedua negara, potensi penyebaran virus melalui jalur transit tetap diwaspadai. Kementerian Kesehatan RI sebelumnya telah meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk negara setelah WHO menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC) untuk wabah Ebola di Afrika Timur.
Menurut analis kesehatan global dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Kurniawan, ketiadaan vaksin untuk strain Bundibugyo membuat situasi DR Congo semakin genting. "Jika wabah tidak terkendali, bukan tidak mungkin FIFA atau otoritas AS mempertimbangkan pembatasan lebih ketat, termasuk kemungkinan penundaan partisipasi tim," ujarnya. Ia menambahkan bahwa protokol karantina 21 hari yang diterapkan AS merupakan standar tertinggi yang pernah diberlakukan untuk sebuah turnamen olahraga global.
DR Congo sendiri telah menjalani persiapan matang dengan menggelar kamp latihan di Eropa. Namun, ketidakpastian terkait perkembangan wabah Ebola membuat rencana mereka di Piala Dunia 2026 masih dibayangi tanda tanya. Apakah langkah preventif yang diambil cukup untuk memastikan keamanan semua pihak, atau justru akan menjadi batu sandungan bagi mimpi DR Congo untuk bersinar di panggung sepak bola dunia?



