Saham Qualcomm Anjlok 3,8% Usai Rilis Laporan Keuangan Kuart
Baca dalam 60 detik
- Jakarta β Saham Qualcomm Incorporated (QCOM) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (6/2/2025) waktu setempat. Berdasarkan data Yahoo Finance, harga saham perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat itu ditutup melemah 3,8% ke level US$ 170,20 per lembar. Penurunan ini terjadi sehari setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal fiskal pertama tahun 2025 yang berakhir 29 Desember 2024.
- Dalam laporan yang dirilis Rabu malam, Qualcomm mencatat pendapatan kuartal I-2025 sebesar US$ 11,67 miliar, melampaui estimasi analis yang sebesar US$ 10,93 miliar. Laba per saham (EPS) juga tercatat lebih tinggi dari ekspektasi, yakni US$ 3,41 dibandingkan perkiraan US$ 3,03. Namun, pasar justru merespons negatif proyeksi pendapatan dari segmen lisensi teknologi (QTL) yang menjadi salah satu lini bisnis utama perusahaan.
- Manajemen Qualcomm dalam konferensi pers memperkirakan pendapatan QTL pada kuartal II-2025 akan berkisar antara US$ 1,2 miliar hingga US$ 1,4 miliar. Angka ini menunjukkan potensi penurunan hingga 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Segmen lisensi ini merupakan sumber pendapatan dengan margin tinggi karena Qualcomm mengenakan royalti atas penggunaan paten teknologi nirkabelnya, termasuk 5G, pada setiap perangkat ponsel yang terjual.
Jakarta β Saham Qualcomm Incorporated (QCOM) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (6/2/2025) waktu setempat. Berdasarkan data Yahoo Finance, harga saham perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat itu ditutup melemah 3,8% ke level US$ 170,20 per lembar. Penurunan ini terjadi sehari setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal fiskal pertama tahun 2025 yang berakhir 29 Desember 2024.
Dalam laporan yang dirilis Rabu malam, Qualcomm mencatat pendapatan kuartal I-2025 sebesar US$ 11,67 miliar, melampaui estimasi analis yang sebesar US$ 10,93 miliar. Laba per saham (EPS) juga tercatat lebih tinggi dari ekspektasi, yakni US$ 3,41 dibandingkan perkiraan US$ 3,03. Namun, pasar justru merespons negatif proyeksi pendapatan dari segmen lisensi teknologi (QTL) yang menjadi salah satu lini bisnis utama perusahaan.
Manajemen Qualcomm dalam konferensi pers memperkirakan pendapatan QTL pada kuartal II-2025 akan berkisar antara US$ 1,2 miliar hingga US$ 1,4 miliar. Angka ini menunjukkan potensi penurunan hingga 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Segmen lisensi ini merupakan sumber pendapatan dengan margin tinggi karena Qualcomm mengenakan royalti atas penggunaan paten teknologi nirkabelnya, termasuk 5G, pada setiap perangkat ponsel yang terjual.
Analis dari Morgan Stanley, Joseph Moore, dalam catatannya menyebutkan bahwa kekhawatiran pasar terfokus pada perlambatan permintaan ponsel pintar global, terutama dari China. "Proyeksi pendapatan lisensi yang lebih rendah dari ekspektasi mengindikasikan bahwa volume pengiriman ponsel di kuartal mendatang mungkin tidak sekuat perkiraan awal," tulis Moore.
Selain itu, Qualcomm juga menghadapi tekanan dari kebijakan pembatasan ekspor chip ke China yang diterapkan pemerintah AS. Meskipun bisnis chip untuk ponsel (QCT) masih tumbuh 12% year-on-year menjadi US$ 10,2 miliar, ketidakpastian regulasi membuat investor khawatir terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Ke depan, Qualcomm akan fokus pada diversifikasi pendapatan melalui segmen otomotif dan Internet of Things (IoT). Pada kuartal I-2025, pendapatan dari segmen otomotif tumbuh 27% menjadi US$ 961 juta. Namun, kontribusinya masih terlalu kecil untuk mengimbangi potensi penurunan dari bisnis utama ponsel dan lisensi.



