Gelombang Panas Ekstrem Jepang: Enam Kota Tembus 40°C, Rekor 'Hari Kejam' Kelima Berturut-turut
Baca dalam 60 detik
- Jepang mencatat lima hari berturut-turut suhu di atas 40°C, istilah 'kokushobi' pertama kali digunakan sejak pencatatan 2010.
- Lebih dari 11.000 orang mencari perawatan darurat akibat sengatan panas dalam sepekan, dengan 14 kematian dilaporkan.
- Target nasional mengurangi separuh kematian akibat panas pada 2030, sementara perubahan iklim memperkuat frekuensi ekstrem.

Jepang mencatat rekor baru gelombang panas ekstrem: enam kota di wilayah tengah mengalami suhu di atas 40°C pada Sabtu (25/7), menjadikan hari kelima berturut-turut yang disebut sebagai 'hari yang sangat kejam' atau kokushobi — istilah meteorologi baru yang diperkenalkan tahun ini untuk meningkatkan kewaspadaan publik terhadap panas mematikan.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan bahwa rekor ini merupakan rangkaian terpanjang sejak pencatatan data dimulai pada 2010. Wilayah Aichi dan Gifu termasuk yang terdampak, dengan suhu harian melampaui ambang batas 40°C yang telah ditetapkan untuk kategori kokushobi. Meskipun istilah ini tidak memicu tindakan resmi nasional, JMA berharap label tersebut dapat 'lebih efektif mendorong kewaspadaan terhadap suhu sangat tinggi', seperti diungkapkan dalam pernyataan April lalu.
Dampak kesehatan mulai terlihat nyata. Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat hampir 11.000 orang mencari pertolongan medis darurat antara 13–19 Juli, dengan 14 di antaranya meninggal dunia saat tiba di rumah sakit. Otoritas setempat memperingatkan masyarakat untuk menganggap cuaca panas ekstrem sebagai 'bencana'. Di Tokyo saja, sebanyak 453 orang menjalani perawatan rumah sakit akibat sengatan panas dalam satu hari pada Kamis pekan lalu — angka tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga kerap dilanda gelombang panas serupa. Meskipun suhu di Indonesia jarang mencapai 40°C, kelembaban tinggi meningkatkan risiko sengatan panas dan dehidrasi. Para ahli menilai bahwa langkah Jepang dalam menerapkan istilah khusus dan kampanye kewaspadaan dapat ditiru oleh negara tropis seperti Indonesia untuk mengurangi dampak kesehatan akibat perubahan iklim.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian panas ekstrem di Jepang dan seluruh dunia. Tahun lalu, Jepang mengalami musim panas terpanas sepanjang catatan, dengan rekor suhu tertinggi 41,8°C di Isesaki pada 5 Agustus 2025. Rata-rata kematian terkait panas di Jepang mencapai sekitar 1.300 jiwa per tahun, dan pemerintah menargetkan pengurangan separuhnya pada 2030.
Dengan target ambisius mengurangi angka kematian akibat panas, Jepang kini dihadapkan pada tantangan memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur kesehatan. Pertanyaannya, apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, siap mengadopsi langkah serupa menghadapi ancaman gelombang panas yang kian sering terjadi?



