Kembali Gagal Raih Emas, Perenung Legendaris Adam Ramsay-Peaty Mempertanyakan Harga Sebuah Pengorbanan
Baca dalam 60 detik
- Adam Ramsay-Peaty hanya mampu meraih perunggu nomor 100 meter gaya dada di Commonwealth Games Glasgow, kalah dari Sam Williamson dan Filip Nowacki.
- Perenang Inggris yang pernah mendominasi delapan tahun tanpa kekalahan ini mengaku frustrasi dan mempertanyakan masa depannya di nomor 100 meter.
- Ramsay-Peaty masih berambisi mengejar emas Olimpiade Los Angeles 2028, namun mulai mempertimbangkan fokus ke nomor 50 meter yang lebih ringan.

Air mata kembali menggenangi wajah Adam Ramsay-Peaty. Setelah kegagalan di Olimpiade Paris, perenang legendaris Inggris itu kembali harus puas dengan perunggu nomor 100 meter gaya dada di Commonwealth Games Glasgow. Ia dikalahkan oleh Sam Williamson (Australia) dan Filip Nowacki (Jersey), atlet muda yang pernah ia bimbing. โSaya bekerja jauh lebih keras dari yang terlihat di papan skor,โ ujarnya dengan mata sembab. โIni terlalu menyakitkan.โ
Ramsay-Peaty bukanlah perenang sembarangan. Tiga medali emas Olimpiade, delapan gelar juara dunia, dan 14 catatan waktu tercepat dalam sejarah menjadi bukti kehebatannya. Namun setelah rehat panjang akibat masalah kesehatan mental pada 2023, ia belum mampu mengulang kejayaan di panggung utama. Di Glasgow, ia lolos final dengan catatan tercepat, tetapi hanya mampu finis ketiga. โSaya merasa berhak mendapat lebih. Saya tahu saya atlet yang lebih baik dari ini,โ keluhnya.
Kegagalan ini membuka luka lama. Ramsay-Peaty mengaku terus bergulat dengan pengorbanan sebagai atlet elite: waktu yang hilang bersama putranya, momen keluarga yang terlewatkan. Baginya, itu bukan pengorbanan, melainkan pilihan. โRasanya seperti tim bagus tersingkir di fase grup Piala Dunia. Sakit karena harus menunggu lama untuk kejuaraan berikutnya,โ katanya. Commonwealth Games ini mungkin yang terakhir baginya.
Meski demikian, perenang berusia 30 tahun itu masih menargetkan Olimpiade Los Angeles 2028, terutama setelah nomor 50 meter dimasukkan ke dalam program. Nomor itu dianggap lebih ringan bagi tubuhnya. โApakah 100 meter masih layak? Saya tidak tahu. Dengan rasa sakit seperti ini, 50 meter mungkin kekuatan saya,โ ungkapnya. Namun ia juga mengakui perlu mengevaluasi ulang pendekatan latihannya.
Kisah Ramsay-Peaty menjadi cermin bagi atlet-atlet Indonesia yang bermimpi di level tertinggi. Tekanan mental dan fisik yang dahsyat kerap tak terlihat oleh publik. Keberanian untuk mengakui kerentanan, seperti yang dilakukan Ramsay-Peaty, justru bisa menjadi kekuatan baru. Di tengah gempuran prestasi, manusia di balik atlet tetap butuh ruang untuk pulih. Mampukah para atlet Tanah Air belajar dari perjalanannya? Pertanyaan itu menggantung di udara.
Dalam wawancara, Ramsay-Peaty mengakui bahwa ia sudah memberikan segalanya. โSaya merasa tak bisa memberi lebih. Jika saya memberi lebih sedikit, apakah hasilnya akan lebih banyak?โ tanyanya retoris. Filip Nowacki, peraih medali pertama Jersey dalam 36 tahun, menjadi simbol kebangkitan. Namun bagi Ramsay-Peaty, saatnya mungkin tiba untuk melepas nomor andalannya dan memulai babak baru. Kolam renang masih menunggu, tetapi dengan air mata yang tak kunjung kering.



