Eala Effect: Petenis Filipina Ini Picu Lonjakan Minat Tenis, tapi Biaya Jadi Hambatan
Baca dalam 60 detik
- Alex Eala, petenis 21 tahun asal Filipina, mencapai babak keempat Wimbledon dan mengalahkan juara bertahan Iga Swiatek, memicu lonjakan minat tenis di negara tersebut.
- Meski menginspirasi banyak anak muda, tenis di Filipina masih terhambat biaya tinggi—sewa lapangan Rp500 ribu per jam—dan keterbatasan fasilitas, terutama di daerah padat penduduk.
- Fenomena ini mencerminkan tantangan serupa di Indonesia, di mana olahraga raket kerap hanya terjangkau kalangan menengah ke atas, dan butuh investasi infrastruktur agar prestasi atlet bisa memicu partisipasi massal.

Kemenangan bersejarah Alexandra Eala di Wimbledon tak hanya mengukir namanya dalam buku rekor tenis Filipina, tetapi juga menggerakkan gelombang baru minat terhadap olahraga yang selama ini tersisih oleh basket, tinju, dan kontes kecantikan—tiga gairah utama Negeri 7.641 Pulau tersebut.
Eala, 21 tahun, menjadi petenis Filipina pertama yang menembus babak keempat Grand Slam, bahkan menyingkirkan juara bertahan Iga Swiatek di jalan. Kepulangannya ke Manila disambut layaknya pahlawan, dengan resepsi kenegaraan di Istana Malacanang yang dipimpin langsung Presiden Ferdinand Marcos. Namun euforia itu juga membuka celah realitas pahit: tenis di Filipina masih menjadi olahraga eksklusif yang hanya terjangkau segelintir orang.
Di Rizal Stadium, Maristella Torrecampo, remaja 14 tahun dari Iriga City, harus menempuh perjalanan darat 13 jam hanya untuk bertanding. Anggaran crowdfunding-nya cukup untuk dua tiket bus dan makan beberapa hari. Ia mengalahkan lawannya dari Oman 6-1, 6-1 dalam pertandingan yang berlangsung bersamaan dengan perayaan Eala. "Seperti Ate Alex, saya ingin menang di Wimbledon, WTA, dan turnamen di seluruh dunia," ujar Torrecampo, sapaan akrab untuk kakak perempuan dalam bahasa Filipino.
Kisah Torrecampo dan Eala menjadi cermin bagi Indonesia, di mana tenis juga kerap dipandang sebagai olahraga elite. Lapangan tenis di Jakarta, misalnya, dapat disewa dengan tarif Rp300-500 ribu per jam, sementara raket dan bola berkualitas impor masih membebani dompet kelas menengah. Prestasi atlet seperti Eala memang mampu menyulut api inspirasi, tetapi tanpa terobosan dalam penyediaan lapangan publik dan subsidi peralatan, api itu mudah padam.
Fenomena serupa juga terlihat di kalangan pegawai kantoran Manila. Celso Mugot, akuntan 33 tahun, mengaku semakin bersemangat belajar tenis setelah menyaksikan perjalanan Eala. Namun Rafael Santos, profesional IT, mengeluhkan kesulitan memesan lapangan sejak Miami Open tahun lalu. "Lapangan di Manila sedikit, sementara peminat membeludak. Harga sepatu dan raket pun melonjak," katanya. Arsitek dan perencana kota Felino Palafox menegaskan, masalah utama adalah ruang. "Idealnya setiap kelurahan memiliki lapangan tenis, bukan hanya basket. Kami sedang berjuang memperebutkan ruang untuk aktivitas," ujarnya.
Eala sendiri telah membungkam kritik yang menyoroti latar belakangnya yang berada—ia berlatih di Akademi Rafael Nadal di Spanyol, dan pernah berdansa dengan Bad Bunny di panggung konser. "Kritikus tidak melihat kerja keras di balik layar," ujarnya. Sekarang ia bersiap tampil di US Open, dengan target membawa nama Filipina semakin tinggi. "Saya pergi dengan ingatan segar tentang apa yang saya bawa saat bermain tenis. Sungguh sebuah keistimewaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri," tulis Eala di Instagram.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah lonjakan popularitas ini akan bertahan lama atau sekadar euforia sementara. Di Indonesia, prestasi atlet seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di bulu tangkis telah membuktikan bahwa investasi infrastruktur dan pembinaan usia dini mampu menciptakan ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Filipina kini menghadapi pilihan serupa: menjadikan tenis sebagai olahraga rakyat, atau membiarkannya tetap sebagai mimpi mahal yang hanya bisa dikejar segelintir orang.



