Dua Kali Jatuh, Joshua Bangkit dan Hajar Prenga: Drama KO di Jeddah
Baca dalam 60 detik
- Anthony Joshua mengalami dua knockdown dramatis di ronde pertama, namun bangkit dan menghentikan Kristian Prenga di ronde kedua.
- Kemenangan ini menjadi penebusan setelah tragedi pribadi dan tekanan menjelang duel melawan Tyson Fury yang kontraknya sudah ditandatangani.
- Pertarungan Fury-Joshua masih mencari venue dan tanggal, namun penampilan Joshua di Jeddah semakin memanaskan antisipasi penggemar tinju global.

Anthony Joshua selamat dari mimpi buruk di awal pertarungan saat dua kali terpukul jatuh, lalu bangkit dan menuntaskan perlawanan Kristian Prenga dengan KO telak di ronde kedua di Jeddah, Arab Saudi.
Ini adalah pertarungan pertama Joshua setelah kecelakaan mobil yang merenggut nyawa dua sahabatnya, Sina Ghami dan Latif 'Latz' Ayodele, pada Desember lalu. Tampil dengan beban emosional berat, ia langsung diguncang oleh pukulan uppercut dari Prenga hanya 20 detik setelah bel berbunyi. Jatuh ke kanvas untuk kali pertama, Joshua kemudian kembali terkapar di sisa ronde pembuka, membuat sebagian besar penonton di arena dan jutaan pemirsa di seluruh dunia menahan napas.
Namun, petinju asal Inggris itu menunjukkan mental baja. Di ronde kedua, Joshua melepas pukulan kanan keras yang akurat—pukulan yang sama yang dulu menjadi andalannya saat mengalahkan Wladimir Klitschko. Prenga, petinju Albania yang sebelumnya tak terkalahkan, langsung roboh dan wasit menghentikan pertarungan. Kemenangan ini tak hanya menambah rekor Joshua menjadi 30-4, tetapi juga menggagalkan skenario terburuk: kekalahan yang bisa membatalkan rencana duel super melawan Tyson Fury.
Fury sendiri, yang disebut-sebut akan hadir di Jeddah, justru memilih absen. Sehari sebelumnya, ia mengalahkan Mariusz Wach di Thailand dan konsisten dengan pernyataannya tidak akan menyaksikan langsung. Absennya Fury justru menambah aroma psikologis jelang duel heavyweight paling dinantikan dalam satu dekade terakhir. Kontrak pertarungan antara keduanya telah ditandatangani, namun venue dan tanggal masih misteri.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, pertarungan ini menjadi tontonan yang mendebarkan. Joshua—yang namanya cukup populer di Tanah Air lewat siaran langsung duel-duel besarnya—kembali membuktikan bahwa ia adalah petarung sejati. Duel melawan Fury, jika terwujud, akan menjadi pesta tinju global yang pasti dinantikan oleh penggemar dari Sabang sampai Merauke.
Usai pertarungan, Joshua melontarkan pernyataan yang mencerminkan dua sisi dirinya. “Saya adalah juara paling kejam, paling ganas. Tidak ada yang bisa menghentikan saya. Dia bukan Oleksandr (Usyk),” ujarnya, merujuk pada petinju Ukraina yang mengalahkannya dua kali. Namun, ia segera melembutkan nada: “Tetapi sebagai pribadi, saya menghormati semua yang telah dicapai Fury. Sebagai petarung, kami di sini sekarang. Semoga para penggemar mendapat suguhan yang indah.” Pernyataan ini menjadi isyarat bahwa Joshua siap secara mental untuk laga pamungkas kariernya.
Satu pertanyaan masih mengemuka: akankah duel Joshua versus Fury benar-benar terjadi, atau kembali menjadi drama panjang yang tak berujung? Dengan kontrak sudah di tangan dan tekanan publik yang terus membesar, jawabannya mungkin akan segera diketahui. Namun satu hal pasti: malam Jeddah telah mengingatkan dunia pada nyala api petinju yang nyaris padam.



