Kerbau Albino Bernama Trump Hebohkan Kebun Binatang Bangladesh
Baca dalam 60 detik
- Seekor kerbau albino dengan jambul pirang ala Donald Trump menjadi daya tarik utama di Kebun Binatang Nasional Bangladesh.
- Hewan itu semula akan disembelih untuk kurban Idul Adha, namun pemerintah memindahkannya ke kebun binatang karena alasan keamanan.
- Kontroversi penamaan dan pemecatan kurator kebun binatang menyertai fenomena viral ini.

Seekor kerbau albino dengan jambul pirang khas dan bobot 700 kilogram mendadak menjadi primadona di Kebun Binatang Nasional Bangladesh, menarik ribuan pengunjung sejak pekan lalu. Hewan yang dijuluki 'Donald Trump' itu menjadi sensasi setelah videonya viral di media sosial, memicu antrean panjang warga yang rela berdesakan di bawah terik matahari untuk melihatnya.
Kerbau langka tersebut awalnya dipelihara di sebuah peternakan di pinggiran Dhaka. Pemiliknya, seorang petani, terkesima saat menyadari bahwa jambul pirang hewan itu mirip dengan gaya rambut Presiden Amerika Serikat. Video singkat yang memperlihatkan penampakan sang kerbau langsung menyebar luas, mendorong puluhan orang berdatangan ke peternakan untuk menyaksikan langsung.
Nasib kerbau itu sempat berada di ujung tanduk. Ia dijual untuk disembelih dalam perayaan Idul Adha, festival kurban umat Muslim. Namun, Menteri Dalam Negeri Bangladesh, Salahuddin Ahmed, memerintahkan polisi untuk mengambil alih hewan tersebut dengan alasan keamanan. Pemerintah kemudian mengganti rugi pembeli dan memindahkan kerbau ke kebun binatang di ibu kota.
Di kebun binatang, kerbau tersebut mendapat perlakuan istimewa. Seorang petugas menyisir rambutnya ke samping, menyemprotkan air untuk mendinginkan tubuhnya, dan menyalakan kipas angin di dekat kandang. Pengunjung berjejer di pagar, merekam dengan ponsel, sementara beberapa ayah menggendong anak-anak mereka di pundak untuk mendapatkan pemandangan lebih baik.
Fenomena ini memicu beragam reaksi. Sebagian warga menganggapnya sebagai hiburan ringan, namun tak sedikit yang mengecam penamaan tersebut. "Memberi nama hewan ternak dengan nama salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia adalah tindakan yang salah," ujar Mohammad Joynal Adedin, warga Dhaka yang tetap datang untuk melihat kerbau itu. "Ini terlihat tidak sopan. Petani yang melakukan ini membuat keputusan yang buruk."
Kontroversi semakin memanas setelah media lokal melaporkan bahwa papan nama bertuliskan 'Donald Trump' di kandang telah dicopot. Kurator kebun binatang dipecat pada Sabtu lalu, meskipun alasan resmi pemecatan tidak diungkapkan. Pemerintah Bangladesh belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.
Bagi sebagian pengunjung, kehadiran kerbau ini menjadi daya tarik tersendiri. "Sejak sebelum Idul Adha, saya melihat postingan di Facebook bahwa 'Donald Trump' akan dikurbankan. Kemudian saya dengar dia malah ditempatkan di kebun binatang," kata Mohammad Habibur Rahman, pengunjung dari kota Jashore, Bangladesh barat daya. "Jadi, saya berpikir untuk datang ke kebun binatang dan melihat 'Donald Trump' secara langsung."
Fenomena serupa sebenarnya pernah terjadi di Indonesia, di mana hewan dengan kemiripan fisik dengan tokoh publik kerap menjadi viral. Namun, kasus di Bangladesh ini menyoroti bagaimana nama seorang pemimpin dunia bisa menjadi bahan kontroversi ketika disematkan pada hewan. Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah kebun binatang akan mempertahankan nama tersebut atau menggantinya dengan nama yang lebih netral, serta bagaimana pemerintah Bangladesh akan mengelola dampak diplomatik dari insiden ini.



