Hilang Enam Hari di Everest, Pemandu Nepal Ditemukan Merangkak ke Base Camp
Baca dalam 60 detik
- Seorang pemandu gunung Nepal, Dawa Sherpa, ditemukan hidup setelah enam hari dinyatakan hilang di ketinggian 7.500 meter Everest, dalam kondisi merangkak menuju base camp.
- Musim pendakian tahun ini memecahkan rekor dengan lebih dari 1.000 pendaki mencapai puncak, namun juga menelan lima korban jiwa, tiga di antaranya warga Nepal.
- Kisah Dawa Sherpa menjadi sorotan karena ia bertahan tanpa oksigen tambahan di zona kematian, memicu diskusi tentang keselamatan dan etika pendakian Everest.

Seorang pemandu pendakian asal Nepal, Dawa Sherpa, ditemukan dalam kondisi merangkak menuju base camp Everest setelah enam hari dinyatakan hilang di ketinggian 7.500 meter di atas permukaan laut. Peristiwa yang disebut sebagai 'self-rescue ajaib' ini terjadi pada Kamis lalu, ketika tim pembersih jalur pendakian melihatnya bergerak perlahan di area Khumbu Icefall.
Dawa Sherpa, yang juga dikenal dengan nama Hillary Dawa Sherpa, terakhir terlihat pada 29 Mei saat membantu seorang pendaki Polandia di atas Camp 3. Pada ketinggian tersebut, kadar oksigen sangat rendah sehingga peluang bertahan hidup tanpa tabung oksigen dianggap hampir mustahil. Tim pencari dari 8K Expeditions telah melakukan pencarian udara, namun tidak membuahkan hasil. Keluarga Dawa bahkan telah menggelar doa terakhir untuknya.
Pemba Sherpa, direktur eksekutif 8K Expeditions, menggambarkan penemuan ini sebagai 'keajaiban nyata'. Menurutnya, Dawa berhasil bertahan selama berhari-hari di zona kematian dengan kondisi fisik yang relatif baik. "Ini benar-benar self-rescue sejati. Dia melawan segala kemungkinan," ujarnya. Dawa ditemukan dalam keadaan sadar dan perlahan meluncur menuruni gletser menuju base camp.
Musim pendakian Everest tahun ini mencatat rekor baru dengan lebih dari 1.000 pendaki mencapai puncak. Namun, kesuksesan ini diiringi tragedi: lima orang tewas, tiga di antaranya adalah warga Nepal yang terlibat dalam persiapan pendakian. Angka kematian ini kembali menyoroti risiko ekstrem yang dihadapi para pemandu lokal, yang sering kali bekerja dalam kondisi paling berbahaya demi mendukung pendaki asing.
Kisah Dawa Sherpa mengingatkan pada insiden sebelumnya di mana pemandu Nepal sering menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Dalam sebuah video yang diunggah pendaki Chris Thrall, mantan marinir Inggris, Dawa terlihat duduk beristirahat dengan ranselnya saat turun dari Camp 4. Thrall mengaku sempat menanyakan kondisinya, dan Dawa menjawab bahwa ia baik-baik saja. Namun, Dawa tidak pernah menyusul hingga akhirnya dinyatakan hilang.
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat banyaknya pendaki Tanah Air yang bermimpi menaklukkan Everest. Setiap tahun, puluhan pendaki Indonesia bergabung dalam ekspedisi, sering kali dengan mengandalkan jasa pemandu lokal Nepal. Kasus Dawa Sherpa menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan dan asuransi yang memadai bagi pemandu, yang kerap menjadi tulang punggung industri pendakian Everest.
Ke depan, musim pendakian yang semakin padat menimbulkan pertanyaan serius: apakah rekor jumlah pendaki sebanding dengan risiko yang dihadapi para pemandu? Dengan perubahan iklim yang membuat jalur pendakian semakin tidak stabil, insiden seperti ini mungkin akan lebih sering terjadi. Sementara itu, Dawa Sherpa kini dalam pemulihan, namun kisahnya telah menjadi simbol ketangguhan di tengah kerasnya gunung tertinggi di dunia.



