Sinner dan Djokovic Mundur dari Montreal, Kekhawatiran Kualitas ATP 1000 Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner dan Novak Djokovic memutuskan mundur dari Canadian Open di Montreal, memperpanjang daftar absen petenis top di turnamen ATP 1000.
- Direktur turnamen menyatakan frekuensi pengunduran diri menit terakhir menjadi ancaman serius bagi integritas Masters 1000 dan kepuasan penggemar.
- Kalender padat yang berlangsung 11 bulan kembali disorot, dengan banyak pemain memilih manajemen beban demi kesehatan jangka panjang.

Kanada kehilangan dua bintang tenis dunia dalam sekejap. Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia, dan Novak Djokovic, legenda dengan 24 gelar Grand Slam, memutuskan mundur dari ajang ATP Masters 1000 di Montreal yang akan berlangsung 1โ13 Agustus. Keputusan ini tak hanya mengecewakan penyelenggara, tetapi juga memicu diskusi serius tentang kalender padat yang mulai menggerogoti kualitas turnamen elite.
Direktur turnamen, Valerie Tetreault, mengungkapkan kekecewaannya bahwa dua nama besar itu kembali absenโmereka juga tidak tampil di edisi Toronto tahun lalu, bersama Carlos Alcaraz yang masih dalam pemulihan cedera pergelangan tangan. โKami sangat kecewa, terutama karena ini bukan pertama kalinya. Kami menghormati keputusan mereka, tetapi frekuensi pengunduran diri menit terakhir dalam beberapa tahun terakhir menjadi masalah yang lebih luas,โ ujar Tetreault dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa pihaknya tengah berdiskusi dengan ATP untuk memastikan isu ini mendapat pertimbangan serius ke depan.
Keputusan Sinner mundur menarik perhatian karena ia tengah mengejar rekor menyapu bersih sembilan gelar ATP 1000 dalam satu musimโsetelah menjuarai Indian Wells, Miami, Monte Carlo, Madrid, dan Roma. Absennya di Montreal membuat misi itu terhenti. Sinner beralasan ingin memprioritaskan kesehatan setelah mempertahankan gelar Wimbledon dua pekan lalu, sementara Djokovic kembali memilih mengatur beban kerjanya. Dengan absennya tiga nama top, turnamen pemanasan menjelang US Open itu kehilangan daya tarik utama.
Di luar kasus Montreal, kritik terhadap padatnya kalender tenis kembali mengemuka. Petenis nomor dua dunia, Alexander Zverev, termasuk yang menyuarakan kekhawatiran terhadap format 12 hari di tujuh turnamen ATP 1000. Lebih luas lagi, sirkuit putra dan putri yang berlangsung 11 bulan sepanjang tahun mendapat sorotan tajam, terutama setelah rangkaian turnamen Asia tahun lalu diwarnai cedera akibat panas dan kelembaban ekstrem. Masalah serupa juga terjadi di WTA: Aryna Sabalenka dan Iga Swiatek, dua petenis papan atas, memilih melewatkan Dubai Championships demi mengatur jadwal dan pemulihan.
Bagi penggemar tenis Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa kesehatan atlet harus menjadi prioritas di atas ambisi komersial. Meski jarang ada pemain Indonesia yang berlaga di level tertinggi, isu keberlanjutan kalender dan beban fisik tetap relevan bagi atlet-atlet Asia Tenggara yang berjuang di sirkuit Challenger dan ITF. Jadwal yang padat tidak hanya menguras fisik tetapi juga membatasi kesempatan pemain untuk tampil optimal di turnamen besar.
ATP sendiri membela kalender padat tersebut. Ketua ATP Andrea Gaudenzi tahun lalu menyatakan bahwa penjadwalan adalah pilihan pemain dan pihaknya terus berupaya menciptakan insentif yang tepat agar jumlah pertandingan ideal. Sementara itu, WTA mengklaim kesejahteraan atlet adalah prioritas utama dan telah mendengarkan masukan dari dewan pemain untuk meningkatkan struktur sirkuit pada 2024, termasuk kompensasi yang lebih baik.
Dengan US Open yang dimulai 30 Agustus, Sinner, Djokovic, dan Alcaraz dijadwalkan tampil di Cincinnati Open bulan depan sebagai pemanasan. Namun, pertanyaannya tetap menggantung: mampukah para petenis top bertahan sepanjang musim tanpa mengorbankan turnamen bergengsi? Ataukah ATP dan WTA perlu segera mereformasi kalender sebelum kepercayaan penggemar luntur?



