Qualcomm Umumkan Kenaikan Harga Chip hingga Dua Digit, Dampak ke Ponsel di Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Qualcomm mengirim surat ke pelanggan perihal kenaikan harga produk chip hingga belasan persen mulai September.
- Langkah ini dipicu oleh lonjakan biaya pemasok dan tekanan di pasar ponsel global akibat pergeseran investasi ke AI.
- Produsen ponsel di Indonesia, yang mayoritas menggunakan chip Qualcomm, berpotensi menaikkan harga jual di tengah daya beli yang lesu.

Kenaikan harga chip dari pemasok utama seperti Qualcomm akan langsung membebani produsen ponsel di Indonesia, yang selama ini mengandalkan produk tersebut untuk perangkat kelas menengah hingga premium. Produsen semikonduktor asal Amerika Serikat itu telah mengirimkan pemberitahuan resmi kepada para mitra soal rencana kenaikan harga dengan kisaran dua digit persen, sebagaimana dilaporkan Bloomberg News pada Jumat lalu.
Kebijakan baru ini akan berlaku untuk semua produk yang dikirim setelah 1 September mendatang. Qualcomm menyatakan bahwa perusahaan tidak lagi sanggup menyerap kenaikan biaya dari pemasok di hulu, dan telah mencari sumber komponen alternatif dari pemasok baru untuk menekan ongkos produksi. Meski begitu, tekanan untuk menaikkan harga jual produk tampaknya tak terhindarkan.
Di Indonesia, pangsa pasar chip Qualcomm cukup dominan, terutama di segmen mid-range dan flagship. Merek seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Realme banyak menggunakan prosesor Snapdragon. Kenaikan harga chip ini bisa membuat margin produsen semakin tipis, atau akhirnya dibebankan ke konsumen. Analis memperkirakan harga smartphone di Indonesia bisa naik 5-10% pada kuartal keempat tahun ini, bertepatan dengan musim belanja akhir tahun.
Sektor ponsel global tengah tertekan oleh perlambatan permintaan dan perang harga. Di sisi lain, investasi besar-besaran di infrastruktur kecerdasan buatan (AI) telah mengalihkan sebagian pasokan memori dan komponen lainnya, sehingga harga chip memory ikut meroket. Hal ini memperparah situasi yang sudah sulit bagi para perakit ponsel. Menurut laporan Bloomberg, Qualcomm enggan memberikan komentar lebih lanjut terkait kebijakan harga ini, dan Reuters belum dapat memverifikasi secara independen.
Pertanyaannya, sejauh mana produsen ponsel di Indonesia bisa bertahan tanpa menaikkan harga? Dengan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, keputusan menaikkan harga jual dapat berisiko menurunkan volume penjualan. Kinerja keuangan Qualcomm yang akan diumumkan pekan depan bakal menjadi indikator seberapa parah tekanan yang dihadapi ekosistem ponsel global. Jika tren ini berlanjut, konsumen Indonesia mungkin harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan ponsel impiannya.



