Kemenbud Dorong Sineas Angkat Kearifan Lokal ke Festival Film: Dana dan Travel Grant Disiapkan
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kebudayaan mendorong sineas Indonesia mempromosikan kearifan lokal melalui festival film, dengan dukungan dana dan travel grant.
- Balinale ke-19 menampilkan 94 film dari 38 negara, termasuk 26 karya Indonesia, salah satunya mengangkat tradisi Sedekah Rawa Pening.
- Langkah ini diharapkan memperkuat identitas bangsa di tengah globalisasi sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional.
Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) mengajak para sineas Tanah Air untuk menjadikan kearifan lokal sebagai jiwa dalam setiap karya yang dikirimkan ke festival film, baik nasional maupun internasional. Ajakan ini disampaikan langsung oleh Direktur Film, Musik, dan Seni Kemenbud, Irini Dewi Wanti, di tengah gelaran Balinale ke-19 yang berlangsung pada 1–7 Juni 2026 di Bali.
Menurut Irini, pengangkatan nilai-nilai lokal bukan sekadar strategi artistik, melainkan kebutuhan untuk memperkuat identitas bangsa di era modernisasi dan globalisasi. Indonesia, katanya, memiliki kekayaan budaya yang melampaui kuliner dan wastra—terdapat kearifan lokal yang mampu mengingatkan masyarakat pada nilai-nilai damai dan jati diri bangsa. “Pemerintah siap mendukung industri perfilman melalui skema pendanaan seperti Dana Indonesia Raya dan fasilitas travel grant yang bisa diakses sineas,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Rabu (3/6/2026).
Kemenbud tidak hanya menyasar festival internasional, tetapi juga berharap kearifan lokal hadir di festival tingkat kampus dan komunitas. Irini menekankan pentingnya memanfaatkan ajang seperti Balinale untuk belajar, berdiskusi, dan membangun jejaring global. Hal ini sejalan dengan visi menjadikan film sebagai media pelestarian budaya sekaligus alat diplomasi.
Salah satu contoh konkret adalah film pendek A Mixed Blessing karya sutradara Cinta Setia. Film ini mengisahkan sebuah keluarga yang berjuang melawan kesulitan ekonomi dengan menggantungkan harapan pada tradisi melarung tumpeng di Danau Rawa Pening, Kabupaten Semarang. Tradisi Sedekah Rawa Pening yang sarat makna—membuang kesialan dan memohon kelancaran rezeki—menjadi inti cerita. Cinta Setia menjelaskan bahwa pengangkatan kisah lokal tidak hanya membawa filmnya ke panggung internasional, tetapi juga membuka mata dunia akan kekayaan budaya Indonesia yang masih lestari namun jarang terekspos.
Bagi sineas Indonesia, momentum ini menjadi peluang emas. Dengan dukungan pendanaan dan akses ke festival global, mereka dapat memperkuat posisi sinema Indonesia di kancah dunia. Irini berharap festival seperti Balinale menjadi ruang pertukaran gagasan dan kolaborasi yang pada akhirnya mengukuhkan film sebagai pilar pelestarian budaya dan identitas nasional. Pertanyaan selanjutnya: sejauh mana sineas akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengangkat cerita-cerita lokal yang selama ini tersembunyi?



