Papin: Saya Seharusnya Jadi Pencetak Gol Terbanyak Piala Dunia 1986
Baca dalam 60 detik
- Legenda Prancis Jean-Pierre Papin mengaku masih menyesali peluang emas yang terbuang saat Piala Dunia 1986.
- Ia nyaris tidak masuk skuad karena cedera pemain lain, lalu justru menjadi starter dan mencetak gol krusial.
- Papin menyebut pertandingan perempat final melawan Brasil sebagai laga paling berkesan dalam kariernya.
Legenda sepak bola Prancis, Jean-Pierre Papin, masih menyimpan penyesalan mendalam lebih dari tiga dekade setelah Piala Dunia 1986. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, pria yang kini berusia 62 tahun itu mengaku seharusnya menjadi pencetak gol terbanyak turnamen, andai ia tidak menyia-nyiakan lima peluang mudah dalam satu pertandingan.
Papin, yang dikenal sebagai mesin gol Olympique Marseille dengan 182 gol dalam 275 pertandingan, hanya tampil dalam tiga laga di Meksiko 1986. Namun, satu golnya ke gawang Kanada pada babak grup menjadi momen yang terus membekas. โSaya ingat gol itu, tapi saya juga ingat lima peluang lain yang seharusnya masuk. Jika semuanya berhasil, saya akan menjadi topskor. Saya masih kecewa sampai sekarang,โ ujarnya.
Kisah Papin di Piala Dunia 1986 dimulai secara dramatis. Ia hampir tidak masuk skuad karena dianggap kurang berpengalaman. Namun, cedera lutut parah yang dialami Jose Toure beberapa hari sebelum pengumuman skuad membuka pintu baginya. Saat itu Papin bermain untuk Club Brugge dan sedang berjuang merebut gelar liga. โSaya sedang makan malam di rumah teman, lalu mendengar nama saya disebut di radio. Luar biasa,โ kenangnya.
Kesempatan bermain bersama idolanya, Michel Platini, menjadi pengalaman tak ternilai. โSaya punya poster Platini di kamar. Bermain dengannya adalah hak istimewa. Saya hanya perlu berlari, dan bola pasti datang,โ kata Papin. Ia mencetak gol tunggal kemenangan atas Kanada pada menit ke-79, setelah sebelumnya mencetak dua gol dalam laga uji coba melawan Guatemala.
Pertandingan yang paling membekas bagi Papin adalah perempat final melawan Brasil. โStadion penuh 90.000 penonton, dua tim besar, sepak bola total. Saya melihat semuanya: Careca mencetak gol, Platini yang cedera menyamakan kedudukan, Zico gagal penalti, tendangan Bruno Bellone yang mengenai tiang dan kepala kiper sebelum masuk. Hal seperti itu jarang terjadi,โ ujarnya. Prancis akhirnya menang adu penalti 4-3 setelah imbang 1-1.
Di semifinal, Prancis kalah 0-2 dari Jerman Barat. Papin menilai faktor kelelahan dan pengalaman menjadi pembeda. โMereka lebih segar dan lebih berpengalaman. Gol Andreas Brehme dari tendangan bebas yang masuk di bawah tubuh Joel Bats adalah detail kecil yang menentukan,โ katanya. Meski demikian, Prancis bangkit dengan mengalahkan Belgia 4-2 di perebutan tempat ketiga.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Papin menjadi pengingat bahwa peluang emas dalam turnamen besar sering kali ditentukan oleh momen-momen kecil. Seperti halnya perjalanan timnas Indonesia di kancah Asia, konsistensi dan ketajaman di depan gawang menjadi faktor krusial. Apakah akan ada lagi pemain seperti Papin yang mampu mengubah penyesalan menjadi inspirasi?
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5542151/original/077605100_1774935256-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-66.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7678642/original/005130700_1780474044-Gemini_Generated_Image_rdrv6drdrv6drdrv.jpg)