Trump Jadikan Diri Pusat Perayaan 250 Tahun AS, Kekhawatiran Bayangi Peran sebagai Tuan Rumah Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengambil alih perayaan HUT ke-250 AS dengan mengubah konser menjadi kampanye, memicu kekhawatiran tentang politisasi acara nasional.
- Langkah Trump dianggap kontras dengan pendahulunya yang lebih mengutamakan semangat kebangsaan, dan menimbulkan pertanyaan tentang perannya saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.
- Pemisahan perencanaan antara komisi resmi dan tim bentukan Trump berpotensi menimbulkan tumpang tindih dan kebingungan publik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengambil alih panggung utama perayaan 250 tahun kemerdekaan AS setelah puluhan pengisi acara mundur karena khawatir acara tersebut terlalu erat dikaitkan dengan namanya. Langkah ini tidak hanya mengukuhkan posisinya sebagai pusat perhatian, tetapi juga memicu spekulasi tentang bagaimana ia akan memanfaatkan perhelatan Piala Dunia 2026 yang akan datang.
Awalnya, rangkaian konser Great American State Fair yang dijadwalkan pada 25 Juni mendatang akan diisi oleh berbagai musisi. Namun, setelah banyak artis membatalkan penampilan karena alasan politis, Trump mengumumkan bahwa ia sendiri yang akan menjadi bintang utama—mengubah acara tersebut menjadi rapat umum kampanye. Keputusan ini diikuti dengan pertandingan UFC di Gedung Putih pada 14 Juni, yang bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80, namun dibingkai sebagai bagian dari perayaan nasional.
Sejarawan dan pengamat politik menilai bahwa Trump memiliki kecenderungan kuat untuk menjadikan setiap acara sebagai panggung pribadi. Timothy Naftali, mantan direktur perpustakaan presiden Richard Nixon dan profesor di Columbia University, mengatakan bahwa kepribadian Trump yang besar dan latar belakangnya sebagai pembawa acara televisi membuatnya sulit untuk tidak menjadi pusat perhatian. "Ada prediktabilitas dalam cara presiden membingkai tindakannya—atau tindakan apa pun di sekitar acara yang terkait dengannya," ujarnya.
Perbandingan dengan presiden sebelumnya pun mencuat. Pada peringatan 200 tahun AS tahun 1976, Presiden Gerald Ford tetap menjalankan tugas kenegaraan tanpa menjadikan dirinya sebagai fokus utama. Ia menghadiri upacara di Valley Forge, Philadelphia, dan New York Harbor, serta menjadi tuan rumah jamuan kenegaraan untuk Ratu Elizabeth II. Marc Stein, sejarawan dari San Francisco State University, menekankan bahwa meskipun Ford berharap acara tersebut mendukung kampanye pemilihannya, ia tidak melakukannya dengan cara yang "narsisistik dan mementingkan diri sendiri" seperti yang dilakukan Trump.
Di sisi lain, perencanaan perayaan 250 tahun AS justru diwarnai dualisme. Kongres sebelumnya telah menugaskan organisasi nirlaba America250 untuk merencanakan acara, namun pemerintahan Trump kemudian membentuk Freedom 250—sebuah kemitraan publik-swasta yang terpisah. Ketua America250, Rosie Rios, menyatakan bahwa hubungan kedua lembaga tetap "saling mendukung", namun pengamat khawatir tumpang tindih ini justru membingungkan publik dan mengaburkan makna perayaan.
Kekhawatiran serupa muncul menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di AS, Meksiko, dan Kanada. Trump telah membentuk satuan tugas federal khusus dan menyatakan akan tampil di atas panggung untuk menyerahkan trofi. Ia juga memimpin langsung undian turnamen di Kennedy Center—gedung yang ingin ia ganti namanya menjadi Trump Center. Langkah-langkah ini dinilai sebagai bentuk perluasan peran presiden di luar batas tradisional, sebagaimana diungkapkan Naftali: "Filter apa pun yang ada di masa jabatan pertama—dan itu tidak banyak—kini telah hilang."
Bagi Indonesia, yang memiliki hubungan dagang dan diplomatik erat dengan AS, perkembangan ini patut dicermati. Gaya kepemimpinan Trump yang cenderung mempolitisasi acara besar dapat mempengaruhi dinamika global, termasuk dalam forum-forum multilateral. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah perayaan 250 tahun AS dan Piala Dunia 2026 menjadi momen pemersatu, atau justru memperdalam polarisasi yang sudah ada?



